Tuesday, June 15, 2004

Menyusuri Transaksi Penjualan ABG di Taman Kopi Bogor:

Menyusuri Transaksi Penjualan ABG di Taman Kopi Bogor:
Sebagian PSK Tertular "Raja Singa"

Majalah Gemari, Maret 2003
Ada banyak alasan mengapa remaja bisa terlibat sebagai pekerja seks komersil (PSK). Selain karena factor ekonomi Dan tipisnya kadar iman, persoalan-persoalan psikologis akibat gaya hidup modern sering menjadi pemicu remaja melakukan perbuatan perbuatan mesum di luar batas kontrol. Celakanya, belum banyak remaja kita yang paham pentingnya menjaga kesehatan reproduksi. Bagaimana kalau di usia muda itu mereka tertular virus HIV/AIDS atau berbagai penyakit menular seksual lainnya?

Memasuki lorong gang belakang Departermen Store Matahari di Taman Kopi, Bogor, tengah malam, akan terasa lain bila kita berada di siang hari. Beberapa gerombolan remaja ABG terlihat lalu lalang di sekitar lorong gelap. Bahkan tempat hunian para pedagang kaki lima yang kosong berubah menjadi tempat mangkal para kawula muda yang sebagian besar adalah laki-laki. Bau alkohol pun tercium, diselingi tawa cekikikan satu atau dua wanita menanggapi guyon beberapa pemuda dari ruang yang agak tertutup layar warung. Ada pula suara marah, kesal seorang perempuan dari sudut lain pada gerombolan laki-laki yang jelas telah mengecewakan si perempuan ABG.

Ada apa dengan mereka? Menurut sumber yang diperoleh Majalah Gemari, sewaktu mengadakan kunjungan investigasi bersama PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) beberapa waktu lalu, lorong gelap itu memang sering dijadikan transaksi penjualan ABG, perempuan untuk dijadikan transaksi penjualan ABG, perempuan untuk dijadikan PSK pada 'Om-Om berkantong tebal' dengan harapan bisa menjamin kepuasan seks. Uniknya, transaksi ini banyak dilakukan oleh si pacar. Dengan kata lain, istilah mucikari mungkin tidak berlaku bagi 'pelanggan' yang sudah mengenal lingkungan yang didatangi.

"Perempuannya tidak perlu ada di sini, mereka cukup menunggu di tempat biasa," ucap Udin (bukan nama sebenarnya) yang juga 'mengkaryakan' beberapa pacarnya untuk pekerjaan ini. Tempat yang dimaksud bisa berupa kamar-kamar yang sudah disiapkan untuk pelanggan, misalnya di Gang Semen, sebuah lokalisasi PSK yang menurut keterangan beberapa sumber banyak dikunjungi oleh kawula muda dari Jakarta. Ini terlihat dari nomor mobil mewah yang berdatangan.

Harga yang ditawarkanpun bermacam-macam. Dari Rp 25.000 - Rp 500.000 perjam. Murahnya harga itu tergantung di lokalisasi mana PSK berada. Untuk PSK di Taman Kopi usia 25 tahun ke atas, harga yang dipasang waktu itu cukup rendah yaitu Rp. 25.000. belum lagi dipotong untuk uang keamanan Rp 3.000 Dan sisanya dibagi dua dengan perantara (orang yang mengenalkan dia dengan si pelanggan). Sedang usia ABG atau di bawah 25 tahun bisa memasang tarif hingga Rp 100.000.

Di tempat yang memasang tariff lumayan mahal per jam, umumnya disediakan fasilitas kamar yang tertata rapi mirip sebuah hotel, PSK yang disediakan pun dikenal cukup cantik. Mereka datang dari berbagai daerah dengan motivasi yang berbeda. Vina (21) misalnya, terlibat menjadi PSK di Gang Semen, Bogor, berawal sebagai pemakai narkoba. Karena di lilit hutang, sementara dia dalam keadaan sakau, ia pun akhirnya merelakan tubuhnya pada sang pacar untuk dijual pada setiap laki-laki yang mampu membayar mahal.

Menurut Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat Prof Dr Azrul Azwar, keterkaitan remaja dengan prilaku seksual aktif sangat memprihatinkan. Virus mematikan HIV/AIDS bisa datang sewaktu-waktu untuk mengancam kualitas hidup generasi muda. "29,8% kasus HIV/AIDS pada kelompok umur 20-29 tahun. Karena itu perlu upaya terpadu untuk menghambat laju penyebaran HIV/AIDS, terutama pada remaja," cetus Dirjen Binkesmas yang juga menjabat ketua PKBI.

Data sampai Desember 2001 menunjukkan, ada 1.978 kasus HIV positif Dan 671 kasus AIDS di Indonesia. Diperkirakan jumlah ini akan terus meningkat hingga 80.000-120.000 kasus pada tahun 2010. "Ironisnya sekitar 30% penderitanya adalah remaja, baik yang ditularkan melalui penyalahgunaan Nafza, maupun yang ditularkan dari ibu pengidap HIV/AIDS yang sejak masa muda telah mengkonsumsi Napza kepada bayi-bayi yang dilahirkannya. Bahkan yang lebih parah lagi hanya sebagian kecil saja dari mereka yang tahu kalau dirinya terinfeksi," paparnya.