Tuesday, June 01, 2004

ABG medan: ditangkap, dicemooh, tapi dibutuhkan

ABG medan: ditangkap, dicemooh, tapi dibutuhkan

Sejak kasus tari bugil di karaoke My World Buana Plaza terkuak, beragam reaksi masyarakat bermunculan. Konon, Muspika Kota Medan juga bersepakat menutup operasional karaoke tersebut. Pihak DPRD juga ikut bereaksi atas peristiwa ini. "Kita minta Poltabes Medan harus bisa menangkap pemiliknya dan mengamankan aktor yang menyuruh melakukan tari bugil itu," ujar Yunus Rasyid, SH, M.Hum, Wakil Ketua DPRD Medan, beberapa waktu lalu kepada harian ini soal kasus itu.

Di samping mengimbau agar Walikota mengevaluasi kinerja Kadis Kebudayaan dan Pariwisata karena kurang proaktif mengawasi operasional hiburan malam, Rasyid juga berharap agar Walikota mencabut izin karaoke teresebut selama-lamanya.

Berbagai komentar masyarakat juga bermunculan karena kasus yang jelas-jelas melanggar moral dan norma-norma agama ini. Dengan kejadian seperti itu, tutur seorang tokoh masyarakat Medan, Pemko dan aparat keamanan harus bertindak tegas. "Pengusahanya telah melanggar Perda no 37 dan SK Walikota tentang pencegahan melakukan perjudian dan perbuatan melanggar kesusilaan. Karena itu usaha karaoke dan pengusahanya harus dijerat dengan hukum," tegas tokoh ini.

Tak hanya itu. Dengan peristiwa ini, beberapa nara sumber yang sempat ditanyai SMW menyimpulkan, semua jaringan yang memiliki hubungan dengan peristiwa itu harus segera dihukum. "Bukan hanya penari bugil itu yang ditangkap. Para toke serta orang-orang yang terlibat di sana," papar Ny. Hariah, salah seorang pendidik yang tinggal di kawasan Medan Kota.

Komentar seperti Ny. Mariah memang tidak sedikit. Pasalnya, sejak peristiwa itu mengemuka banyak "keanehan" yang mengusik rasa keadilan dan keingintahuan masyarakat. Betapa tidak. Saat pihak aparat menggerebek, hanya dua ABG yang diboyong ke kantor polisi. Para toke yang menikmati tarian birahi itu "luput" dari gerebekan.

Esoknya, setelah peristiwa itu, pihak aparat yang semula memberi keterangan para toke itu berhasil lolos, kembali memberi keterangan pada media massa kalau seorang pria yang ikut dalam atraksi itu dalam pengejaran. Anehnya, "nasib" toke-toke itu tak dijelaskan secara tuntas.

Untuk kasus bugil di My World, untuk sementara ini pihak penegak hukum hanya menangkap "artis"-nya. Sementara "aktor" atau "sutradara" dan " penikmatnya" masih kita tunggu kelanjutannya.

Belum lagi kasus ini tuntas, terjadi peristiwa "urusan birahi " lain yang melibatkan ABG. Seperti yang terjadi belum lama ini , pihak Poltabes Medan berhasil mengamankan K Br S, gadis berusia 18 tahun pelajar SMK, penduduk Jalan Garu II, Medan. Pelajar puteri ini dituduh sebagai "telangkai" terhadap beberapa ABG yang akan berhubungan dengan para hidung belang. Para ABG yang melayani para hidung belang itu mendapat imbalan antara Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta.

Kisah "telangkai" urusan birahi ini berumula dari K Br S berkenalan dengan pria AK. Kedua insan ini sering bertemu dan selalu berhubungan intim dengan bayaran Rp 200 ribu sampai Rp 1 juta. Namun keintiman yang haram itu menghasilkan "kreatifitas" yang lain. AK meminta agar K Br S mencarikan ABG lain. Sejak itulah K Br S memasang jerat pada ABG lain . Singkat kisah, K Br S berhasil menyediakan ABG untuk kebutuhan birahi AK. Hebatnya, para ABG ini masih tinggal di kawasan K Br S tinggal. Namun, sepandai-pandainya menyimpan dan mengatur urusan birahi, akhirnya terbongkar juga. Tersebarlah kabar dari mulut ke mulut. Takut warga marah dan bertindak di luar hukum pihak polisi mengamankan K Br s. Sialnya, Ak si hidung belang, hingga kini masih dalam pengejaran .

Kisah tari bugil dan juga kisah "telangkai" urusan birahi merupakan warna lain dari maraknya persoalan prustitusi para ABG di kota Medan. " Kalau memang peraturan ingin ditegakkan secara adil dan tegas, kasus tari bugil dan prostitusi ABG pasti banyak terbongkar," bisik seorang sumber pada SMW. Sumber ini kemudian melanjutkan, di beberapa tempat di Medan secara kasat mata dapat dijumpai para ABG menjual diri. Baik siang maupun malam. Dan soal tari bugil seperti yang terjadi di My World sumber ini juga mengatakan selalu berlangsung di tempat-tempat hiburan elite. Sa-yangnya, submer ini enggan menje-laskan dengan rinci." Pokoknya tem-patnya tertutup dan elte-lah," tutupnya .

Benar atau tidak, Di Medan keberadaan para pelacur yang berumur masih belasan (ABG) memang bukan menjadi rahasia umum lagi. Mereka ada di mana-mana. Tak siang tak juga malam. Di tempat-tempat hiburan malam jumlah mereka begitu banyak. Di diskotek, plaza, cafe, saloon dan hotel- kelas melati, perempuan muda yang sesungguhnya jadi tunas bangsa ini sudah terlanjur menjadi pelayan birahi para hidung belang.

Sumber dari pihak kepolisian juga menyebutkan bahwa soal mengumbar birahi yang rada-rada mirip di My World sering terjadi di Medan. Walau tak bugil namun tarian dan gerakan mengumbar nafsu sering tampil di berbagai tempat hiburan. Demikian juga jumlah perempuan ABG yang siap dikencani. Sumber ini menyebutkan hampir di setiap rumah hiburan di Medan tak begitu sulit menemukan ABG yang siap dikencani.

Seberapa banyak tempat - tempat di Medan yang menjadi sarang para pelacur ABG dan seberapa jumlah para ABG yang siap kencan ini memang tak terpapar dengan pasti. Namun kasus My World dan beberapa kasus yang pernah terungkap di media massa, sudah selayaknya berbagai pihak yang berkompeten merasa cemas. " Tak usah menutup mata. Berbagai komponen yang selayaknya bertanggung jawab dengan masalah ini tak lagi berperan dengan baik. Keberadaan mereka semakin banyak. Persoalannya begitu kompleks," ujar seorang aktivis Islam yang tinggal di Medan.

Banyaknya ABG di Medan yang sudah terjerumus menurut beberapa kalangan masyarakat bukan saja masalah hukum yang tak ditegakkan dengan benar. Tapi persoalan pengangguran dan juga persoalan mental para orang tua yang mendidik anaknya. Pesatnya pembangunan dan gelembung dunia informasi serta arus golobal yang tak bisa dibendung memberi rangsangan lain bagi para remaja untuk konsumtif.

Akhirnya, budaya konsumtif di tengah himpitan hidup yang serba susah itulah kesadaran terhadap peraturan dan hukum-hukum agama kian rapuh. Maka ABG yang memilih jalan pintas untuk bisa hidup enak dan bisa mengantungi uang banyak bukan hanya melanda ABG perkotaan. ABG khususnya kaum perempuan di pedesaan terjangkit "penyakit" yang sama. " Maka jangan heran kalau di kota ini banyak perempuan ABG dari desa yang nekat jadi pelacur," papar seorang pemerhati sosial di kota ini.

Ketika orang-orang tua tak lagi berperan sebagaimana mestinya, para penegak hukum tak befungsi sebagaimana layaknya, arus dunia informasi yang menggila , maka penyakit sosial ini tak bisa dibendung, aku pengamat ini lagi. " Pengaruh teve juga begitu besar. Tayangan yang seronok dan kekerasan kian akrab buat remaja," dalihnya kemudian.

Memang tak bisa dibantah bila banyak perempuan ABG yang tinggal di desa dan pinggiran kota Medan "memeriahkan" kehidupan malam . Setidaknya, inilah pengakuan Yusuf,45, ( bukan nama sebenarnya ) kepada SMW belum lama ini. Sebagai seorang pengusaha muda yang sering mengunjungi tempat hiburan malam ia memang sering mengencani perempuan ABG. Sebagian besar perempuan ingusan yang dikencaninya adalah berasal dari desa pinggiran kota Medan. " Mereka umumnya memang mencari uang. Ada yang masih sekolah dan ada yang tak tamat sekolah," terang Yusuf.

Dan ini juga pengakuan seorang perempuan ABG yang sering mangkal di beberapa tempat hiburan malam di Medan. " Kebanyakan dari kami adalah penduduk luar kota. Kami ngontrak di Medan ini. Yang kami cari ya, uang. Untung-untung dapat jodoh orang kaya," paparnya tanpa rasa malu.

Konon, perempuan yang cuma tamat SD asal Perbaungan ini mengaku, banyak perempuan seperti dia yang meramaikan kehidupan malam di Medan. "Orang kita dibu-tuhkan,kok. Kita juga butuh uang. Soal hukum bisa diaturkan!" tan-tangnya tanpa rasa malu dan risau. Toh, ada juga sebuah pengakuan yang dibalut risau. Inilah pengakuan Surti, 15, penduduk kawasan Tembung.

Ia mengaku sudah setengah tahun sering enjoy di salah satu karaoke. Ia juga sudah sering kencan dengan toke-toke. Dari pengalamannya itu ia nemang pernah sekali kena gerebek saat berhubungan intim dengan seorang toke di sebuah penginapan kelas melati. Hanya ia yang diamankan ke kantor polisi. Sang toke Bebas begitu saja. Untungnya toke tadi mau nengurusnya di kantor polisi. Sekarang saya hati-hati kalau cari mangsa dan kencan. Soalnya saya tahu, kalau kena gerebek pasti perempuannya yang ditangkap, lelakinya tidak. Mending kalau lelakinya mau mengurus , kalau tidak!" umbarnya dengan raut risau.

" Tapi kita nekat saja. Teman - teman lain juga begitu. Kalau tidak begini dari mana dapat uang?"

Tak takut dosa atau malu ? " Akh, siapa yang tak berdosa ? Mengapa malu. Mereka-mereka cuma teriak dan komentar. Buktinya banyak Om-om yang boking kita,kok. Orang seperti saya ini banyak sekarang. Kita sekarang harus pandai bersaing. Yang muda dan cantik kian banyak. Lagi pula, kami ada karena kami dibutuhkan, kan ? Nasib kami memang begitu. Dicemooh, ditangkap, tapi dibutuhkan." paparnya berdalih. Bukan main. cbir (sh)