Tuesday, June 15, 2004

"Bo'ing" Memangsa ABG Kita

BERITA tentang tertangkapnya di Denpasar (Bali) pengedar obat ecstasy di Indonesia, EK (45) cukup menarik perhatian untuk disimak. Berdasarkan pengamatan Kompas, kehadiran pil yang diramu dari bahan heroin dan dicampur dengan zat-zat kimia itu sudah merebak di kalangan generasi muda, khususnya Ibu Kota.

Di beberapa diskotek Ibu Kota bisa disaksikan, ABG (istilah lain dari remaja, yakni anak baru gede, yang baru beranjak dewasa) yang mempertontonkan tarian dengan berjingkrak-jingkrak seperti tak kenal lelah, bahkan saling menumburkan kepala dan saling injak setelah menenggak ecstasy tersebut.

Jika "tari patah-patah" atau break dance sempat mencemaskan orangtua, karena adanya gerakan head spin (gaya berputar dengan badan bertumpu pada kepala) yang bisa mematahkan leher, pada "tari kesurupan" atau trance dance itu ancamannya adalah geger otak, atau rusaknya tubuh bagian dalam.

Seorang ABG bertampang "gedongan" yang ditemui Kompas di kawasan PIM (Pondok Indah Mall) di wilayah Jaksel baru-baru ini mengatakan, pil ecstasy yang harganya bisa mencapai Rp 175.000 per butir itu sudah menjadi trade mark "hebatnya" seorang remaja. Menurut dia, selain karena mahal, pil itu memberikan
kenikmatan yang luar biasa.

Pil ini, lanjutnya, makin dikenal di kalangan remaja, terutama setelah pemberitaan kasus terbunuhnya Rifardi Sukarnoputro (24) alias Aldi, yang melibatkan nama artis Ria Irawan, Januari tahun lalu. Waktu itu diduga penyebab kematian Aldi adalah obat jenis Cyrobabital, yang dihubung-hubungkan dengan ecstasy.
***


MENYINGGUNG kenikmatan menggunakan pil itu, seorang remaja yang bernama Raymond (bukan nama sebenarnya) mengatakan, tidak ada kenikmatan yang bisa manyaingi pil itu. Bukan cuma tak ingat apa-apa dan badan menjadi kebal karena saraf sudah mati rasa, tapi juga karena dengan mudah membangkitkan nafsu seks.
Akibatnya, kata Reymond, "kencan" dengan pacar, menjadi sangat luar biasa.

"Gue ude nenggak macem-macem bo'ing (istilah mereka untuk obat terlarang), tapi yang namanye ecstasy belum ade tandingannye. Menurut gue, nggak semua beruntung bisa ngerasain kenikmatan yang bikin kita seperti dewa di kayangan itu. Kita melayang-layang dan gampang terangsang, sehingga pacar kite pun rasanye kayak
bidadari. Pokoknya yang bisa nyaingin bo'ing itu paling-paling hanya 'Hero Supermarket" (nama lain untuk heroin)," ucap anak muda itu bersemangat.

Seorang gadis muda yang mengaku sering menjadi figuran di berbagai sinetron TV, mengungkapkan, sebagian besar artis nasional sudah menganggap pil itu menjadi makanan sehari-hari. Alasannya, tanpa obat itu kehidupan seks mereka akan
hambar.

"Dengan pil itu, seks menjadi sangat indah, dan saya bisa puas berkali-kali dalam suatu permainan. Percaya atau tidak saya bisa seharian di kamar bersama kawan kencan jika memakan pil itu, dan saat itu sedikit pun tidak ada lagi rasa malu," ucapnya tanpa malu-malu.

Ketika ditanyakan apakah tak takut ditangkap polisi ketika membeli dan menggunakan obat itu, kedua remaja ini dengan tangkas mengatakan, hal itu jarang terjadi. Mereka yakin karena ada jaminan dari jaringan pengedarnya bahwa khusus untuk kelas pengguna obat ini, akan jauh dari cengkeraman yang
berwajib. Alasannya, selain punya "boss gede" yang untouchable, para pengedar dan pemakainya pun kebanyakan anak-anak pejabat teras negeri ini.
***

BERDASARKAN penelurusan Kompas terbukti bahwa obat itu memang beredar semakin transparan. Di pub "T" di jalan Rasuna Said Kuningan, Jaksel misalnya, bisa disaksikan betapa bebasnya obat-obat terlarang itu beredar. Hebatnya lagi,pub itu pun sering tutup pukul 10.00 WIB. Dari bisik-bisik di kalangan remaja,
muncul nama pengedar seperti B, yang beroperasi di sekitar diskotek "Tn", Jakarta Pusat. Pengedar lainnya, konon kebetulan tengah berada di dalam sel Polres Jaksel, tergaruk bukan karena kasus ecstasy tapi karena kasus pengeroyokan yang mengakibatkan tewasnya Lettu (Pol) Budi Prasetyo tersebut.

Pemuda ini sering terlihat bersama seorang anak yang ayahnya menjadi backing, yang mendapat julukan "Mr Renegade". Diperoleh informasi, sebelumnya transaksi kelompok ini sering diadakan di sekitar McDonalds Sarinah, namun sekarang wilayah pemasarannya sudah pindah ke sebuah diskotek di Blok M.

Sejak tertangkapnya warga Belanda, Christhian Bvan De Bosch di hotel Borobudur tahun lalu, kepolisian sudah mencium masuknya jaringan internasional pengedar pil itu ke Tanah Air. Dari perbincangan dengan beberapa anak muda yang berada
di lingkungan pengguna pil itu, terbetik sebuah nama seorang big boss warga AS, yang biasa dipanggil "Abudhabi". Pemuda berkulit hitam ini konon tinggal di sebuah losmen di Jl Jaksa, Jakpus. Konon pula, selama ini ia bisa aman karena punya mitra seorang anak pejabat, yang saat ini dijuluki "Pablo Escobar"
nya Indonesia.

Satu hal menarik dari jaringan narkotik ini adalah didominasi anak-anak muda, yang cukup canggih dalam menjalankan bisnisnya. Dari bisnis itu, jangan heran jika sampai ada yang punya rumah di kawasan mewah di AS, Beverly Hills.


Untuk menumpas peredaran obat-obatan ini sebaiknya jangan cuma polisi yang turun tangan tapi perlu koordinasi yang kuat dari Bakorstanas, karena banyak melibatkan putra-putri penggede. Seperti pengakuan tulus seorang perwira polisi kepada Kompas, yang mengatakan, mereka sering menghadapi "tembok" dalam kasus-kasus obat ini.
***


SELAIN ecstasy, sesungguhnya penggunan obat terlarang lainnya di kalangan remaja pun sudah cukup mengkhawatirkan, terutama akibat semakin bebasnya, peredaran obat-obat itu. Pada malam hari di gerobak-gerobak penjual obat di sepanjang Jl Hayam Wuruk dan Jl Jatinegara, dengan mudah dibeli obat-obatan seperti "Nipam", "Mogadon", "Rohipnol", "Dumolit", dan lain-lain. Cukup dengan merapatkan mobil dan mengeluarkan uang, si penjual segera akan menyerahkan barang yang kita ingini.

Seorang remaja pengguna obat-obat yang kronis mengatakan, saat ini harga termahal masih "Dumolit" yang satu tiknya mencapai Rp 25.000. Sedangkan termurah adalah Rohipnol yang hanya Rp 10.000. Ia mengungkapkan, jangankan di toko obat liar, di apotek saat ini pun penjualannya banyak yang bebas. Misalnya apotek di sekitar Senayan dan di Jl Panglima Polim.


Seorang pedangan obat-obatan di Hayam Wuruk menjelaskan, saat ini banyak beredar obat-obatan kelas II, dari Bandung. Obat itu sangat laku, harga lebih murah namun membuat teler lebih berat, karena dicampur berbagai macam zat kimia yang lebih keras. Ia tak mengelak ketika ditanya soal banyaknya beredar obat palsu, yang terdiri dari campuran Vitamin C dan Baygon, yang banyak dibeli remaja miskin karena murahnya.


Sesungguhnya, bukan cuma obat-obatan yang sudah semakin merebak di kalangan remaja kita, sebab kehadiran daun ganja pun tetap eksis di daerah-daerah yang memang sudah menjadi tempat transaksi sejak dulu. Seperti kawasan Cawang - Cililitan, Kalipasir, Roxy, Tanjungpriok, dan Rawa Sari, yang saat ini harga per amplopnya rata-rata Rp 12.500.


Seorang yang akrab dengan "rumput Medan" (nama lain untuk ganja) itu mengungkapkan, sebenarnya di Indonesia ini jalur ganja itu hanya Aceh, Medan, Jakarta dan Bali saja. Dan sebagai sentral penyebaran adalah Jakarta. Jadi lanjutnya, ganja yang ada di Palembang dan Lampung sekalipun, tidak langsung dari Aceh, tapi terlebih dahulu melalui Jakarta.


Seorang wanita yang mengaku juga akrab dengan rokok haram itu menambahkan, teknik-teknik membawa ganja dari Aceh ke Jakarta atau dari Jakarta ke Bali,dilakukan dengan menggunakan mobil ambulans (yang lampunya menyala terus), atau dengan mobil yang bernomor plat Instansi tertentu yang dipalsukan. Sehingga sering aman sampai di tempat tujuan, karena mobil itu jarang dihentikan di jalan. Cerita wanita itu masuk akal, sebab tahun lalu polisi pernah menangkap pengedar ganja yang menggunakan sedan Mitsubishi Lancer yang menggunakan nomor mobil palsu.
***


ANCAMAN hukuman penjara seumur hidup atau 20 tahun penjara berdasarkan Pasal 204 KHUP, ternyata tetap tak membuat para pengedar dan pemakai barang-barang haram itu jera. Berdasarkan wawancara Kompas dengan beberapa ABG, bisa disimpulkan bahwa penyebab terbesar dari jatuhnya mereka ke dunia hitam itu adalah kondisi atau lingkungan keluarga.


Seperti cerita yang sudah klise, Rita (18, bukan nama aslinya) mengatakan,kesibukan kedua orangtuanya membuat dia selalu kesepian di rumah. Di tempat lain, remaja bernama Abadi (22) mengatakan, dia lari ke pil yang mahal itu karena orangtuanya terlalu memaksakan kehendaknya agar dia menjadi seorang dokter.

Sulit dibantah bahwa yang paling berperan untuk memerangi wabah penggunaan obat-obatan itu di kalangan remaja adalah para orangtua. Karena segala karakter dan sikap anak di luar rumah pasti berhubungan dengan kondisi dan lingkungan keluarga yang disediakan orangtua. Jadi segala akar permasalahan sebenarnya berasal dari rumah.

(Kompas, Sabtu, 25 Maret 1995)