Monday, February 13, 2006

TRUE STORY: TERBAKAR CINTA FOTOGRAFER

Profesi saya adalah fotografer freelance di sebuah tabloid hiburan. Saya sering mendapat tugas memotret wanita cantik, baik itu selebriti terkenal atau model baru. Sejauh ini saya selalu punya komitmen untuk bekerja secara profesional. Saya tidak mau terlibat hubungan asmara dengan model yang menjadi obyek foto saya, meski saya mungkin tertarik dengan mereka.

Tapi akhirnya komitmen itu saya langgar juga. Ceritanya, ada seorang model yang datang menemui saya minta dibuatkan portofolio foto untuk kepentingan pribadi. Sebut saja, namanya Arinda. Secara fisik, Arinda memang tipe gadis incaran saya, tubuhnya padat berisi, berwajah agak indo dan kulitnya putih mulus.

Jujur saja dari awal saya sudah tertarik padanya. Dan sepertinya, saya tidak bertepuk sebelah tangan. Dari bahasa tubuhnya, saya tahu Arinda juga merasa tertarik dengan saya. Beberapa kali saya memergoki mata indahnya menatap malu-malu ke arah saya. Namun sebisa mungkin saya tetap berusaha untuk menjaga sikap.

Tapi entah kenapa, lama-lama hati saya luluh juga. Melihat tatapan malu-malu Arinda dan senyumnya yang menawan, iman saya tak kuat. Saya lalu mencoba mendekatinya. Kebetulan saat itu Arinda datang ke lokasi pemotretan dengan diantar taksi. Dengan berlagak gentleman, saya menyatakan diri siap mengantarnya pulang. Tawaran saya langsung diterima Arinda dengan suka cita. Sekitar pukul 18.30, kami meninggalkan lokasi pemotretan, meluncur ke arah Bekasi, rumah Arinda.

Di dalam mobil, obrolan kami makin berkembang. Mungkin karena merasa sudah dekat, Arinda mulai berani menceritakan soal dirinya ke saya. Yang membuat saya kaget, ia mengaku telah menikah dan memiliki seorang putra usia balita. Katanya, hubungan dengan suaminya sudah tak harmonis lagi, meski mereka masih tetap tinggal satu atap.

Ketika menceritakan hal itu, kegetiran tampak jelas membayang di wajah cantik Arinda. Entah kenapa, saat itu saya merasa makin jatuh hati kepadanya, padahal usia perkenalan kami baru terhitung beberapa jam saja. Saya mencoba mengobati luka hatinya. Saya raih jemarinya yang lentik dan mengecupnya.


Mobil saya masih melaju stabil di jalan tol menuju Bekasi. Alunan musik kini berganti vokal Celine Dion yang menyanyikan lagu My Heart Will Go On (maklum, saat itu film Titanic yang dibintangi Leonardo Di Caprio dan Kate Winslet memang tengah booming).

Ibarat dua kutub magnet yang tidak sejenis, rasa ketertarikan di antara kami memang sudah tidak dapat disembunyikan lagi. Sepanjang sisa perjalanan, kami manfaatkan untuk bermesraan. Bukan hanya jemari Arinda yang saya remas, tapi saya pun telah mencium matanya, lehernya, bahkan bibirnya. Tangan saya juga mulai bermain nakal di kaki Arinda yang ketika itu hanya berbalut celana pendek. Saya elus paha dan betis mulusnya yang jenjang. Dan, Arinda sepertinya sangat menikmati semua itu.

Sayangnya tak lama kemudian mobil memasuki kawasan perumahan tempat Arinda tinggal. Kemesraan itu pun terpaksa kami akhiri.

Kencan Pertama

Keesokan harinya, sekitar jam 10 pagi Arinda menghubungi saya ke ponsel. Ia bilang sangat terkesan dengan sikap saya kemarin. Saya lalu bilang kalau sepertinya saya juga tertarik padanya. Obrolan kemudian kami isi dengan perbincangan hangat. Sesekali rayuan maut juga meluncur dari mulut saya. Saya menggoda Arinda. Saya bilang kalau saya foto dia dalam keadaan tanpa busana, hasilnya pasti mengagumkan. Mendengar itu tawa renyah Arinda langsung terdengar di ponsel saya.

Hampir seminggu kami rajin saling menelepon. Sebetulnya sudah beberapa kali Arinda mengajak saya untuk bertemu di jam-jam kerja, tapi jadwal kantor yang tengah padat tak memungkinkan saya memenuhi ajakannya. Alasannya mengajak saya bertemu di jam-jam kerja, karena di saat itulah ia punya banyak alasan untuk keluar rumah, sehingga orang rumahnya tak curiga. Baru ketika jadwal kerja agak longgar, saya bisa mencuri-curi waktu bertemu dengannya. Saat itu kami sepakat bertemu di sebuah hotel di kawasan Kebayoran Baru.

Ditemani secangkir cappuccino hangat dan seporsi chicken wings, saya menanti kedatangan Arinda di salah satu restoran di hotel tersebut. Tepat jam 11.00 WIB, ia muncul di hadapan saya. Penampilannya tampak feminim sekali. Tubuhnya yang indah dibalut tank top putih dengan rok blue jeans sebatas lutut. Rambutnya yang sebatas bahu dijepit ke atas, memperlihatkan leher jenjangnya yang menawan. Saat itu, hanya polesan make up tipis menghias wajah Arinda. Saya sungguh terpana memandang kecantikannya yang terlihat sangat alami.

“Apa kabar, Mas,” suara renyah Arinda membuyarkan keterpanaan saya. Kami lalu bersalaman. Ciuman ringan dari bibirnya kemudian mendarat di pipi kiri dan kanan saya, cup… cup.

“Kamu cantik,” pujian seperti itu langsung meluncur dari mulut saya.

Mendengar itu Arinda tersipu. Ia duduk di samping kanan saya, lalu jemari lentiknya membuka buku daftar menu. Dipesannya orange juice dan black forest. Sambil bersantap, kami berbincang hangat dan mesra. Tatapan mata dan bahasa tubuh kami berdua sepertinya tidak bisa lagi menyembunyikan gejolak hasrat yang membuncah di dada.


“Ke kamar, yuk. I miss you so much,” bisik saya sambil mencium telinga mungil Arinda. Ajakan saya ini langsung direspon Arinda dengan kerlingan mata menggoda. Kami pun melangkah bersisian menuju kamar hotel.

Ternyata begitu berada di kamar hotel, Arinda tidaklah seagresif yang saya bayangkan. Sebaliknya, ia terlihat agak kaku. Entah apa yang membuatnya jadi seperti itu. Bisa jadi ini disebabkan rasa bersalah yang muncul dalam dirinya karena telah mengkhianati sang suami.
Tapi saya sengaja tidak mau mengungkit-ungkit soal itu. Masa bodoh dengan persoalan rumah tangganya, yang penting hari ini saya bisa enjoy, begitu hati saya bicara. Toh, ajakan bertemu di hotel ini bukan hanya keinginan saya, Arinda pun sudah menyetujuinya, bahkan dari awal ia sangat antusias sekali.

Untuk mencairkan keadaan, saya memutar lagu-lagu romantis lewat CD. Saya pilih alunan saksofon dari Kenny G, lalu membuka dua kaleng minuman soft drink yang tersedia di mini bar. Suasana sengaja saya ciptakan sealami mungkin. Untuk menghilangkan kekakuan, saya mengajak Arinda bercengkrama di sofa panjang di samping tempat tidur.

Obrolan kami saat itu banyak diselingi dengan canda. Melihat Arinda sudah mulai bisa relaks, saya baru berani menyentuhnya. Saya cium rambutnya, kemudian dahi, mata, lalu bibirnya yang ranum, terus merambat ke dua bukit mungil di dadanya. Arinda membalas cumbuan-cumbuan itu, semakin lama semakin membara.

Tapi sebagai pemain cinta yang sudah berpengalaman, saya tidak mau langsung menyelesaikan babak tersebut saat itu juga. Saya sengaja mengulur waktu. Bukannya sok romantis, saya ingin memberikan pengalaman bercinta yang berbeda padanya. Dengan pakaian yang keadaannya sudah berantakan, saya ajak Arinda berdansa. Sambil berdansa, saya cium leher jenjangnya, bibirnya, sedangkan tangan kanan saya meremas-remas bagian bokongnya yang padat. Seperti adegan percintaan di film-film romantis ala Barat, saya lucuti pakaian Arinda satu per satu, ia pun melucuti pakaian saya. Akhirnya kami berdua berdansa dalam keadaan tubuh polos.

Helaan nafas Arinda yang penuh gelora terdengar di telinga saya. Ia kini lebih agresif mencumbu saya, tapi saya masih belum mau untuk menuntaskannya. Saya masih tetap melakukan foreplay. Intinya, saya ingin membuat Arinda merasa exciting dengan permainan cinta yang saya lakukan. Setelah semuanya sudah tidak bisa dikendalikan lagi, barulah kami melakukan intercourse.

Di hotel itu, kami melakukan adegan percintaan hingga dua sesi. Entah jujur atau tidak, Arinda bilang ia sangat puas dengan permainan cinta saya. Tapi kalau melihat dari raut wajahnya, kesumringahan memang tampak jelas terparcar. Jadi sepertinya ia memang jujur dengan pengakuannya. Dan, itulah yang membuat saya langsung besar kepala. He he he.

Positif Hamil

Setelah peristiwa di hotel itu, saya dan Arinda tetap menjalin hubungan melalui telepon. Baru seminggu kemudian, kami janjian lagi untuk bertemu di hotel yang sama. Saat itu kebetulan weekend, jadi waktu kami untuk bercinta bisa lebih panjang, hingga tiga sesi. Kesemuanya diakui Arinda, mampu membawanya mencapai puncak kenikmatan.

Sejak pertemuan kedua ini, kami tetap menjalin hubungan mesra melalui telepon. Biasanya, Arinda-lah yang setiap harinya rajin menghubungi ponsel saya. Ketika usia hubungan kami menginjak empat minggu, ada satu pertanyaan aneh yang dilontarkan Arinda di telepon. Ia bertanya soal golongan darah saya.

"Kayaknya saya hamil nih, Mas. Makanya saya harus tahu golongan darah Mas apa? Soalnya, sudah hampir sebulan ini saya enggak pernah berhubungan dengan suami,” begitu penuturan Arinda.

Bagai petir di siang bolong, saya kaget mendengar pengakuan Arinda. Karena meski sudah puluhan wanita yang pernah saya kencani, baru sekarang ada yang mengaku hamil. Jujur saja, selain rasa tegang, juga terbersit sedikit rasa senang di hati saya. Tegang karena saya menghamili istri orang, senang karena ternyata saya bukan pria mandul.

Arinda sendiri tidak menuntut macam-macam. Ia malah menasihati saya agar tenang. “Pokoknya, tenang aja deh Mas. Biar soal ini saya yang menghadapi. Untuk sementara waktu, Mas enggak usah menghubungi saya dulu, ya,” katanya.

Namun saya tidak sabar untuk meminta kepastian dari Arinda. Tiga atau empat hari kemudian saya lalu menghubungi ponselnya, tapi tidak aktif. Akhirnya saya memberanikan diri menghubungi nomor telepon rumahnya. Orang rumahnya bilang, Arinda sedang ke rumah sakit. Sejak itu saya memang kehilangan kontak komunikasi dengannya. Ponselnya selalu mati, sedangkan kalau ditelepon ke rumah, Arinda tidak pernah ada.

Baru seminggu kemudian, saya berhasil kontak dengannya. Ketika saya tanya soal kehamilannya, Arinda bilang baru saja mengalami keguguran. Gara-garanya ia tak sengaja menginjak ekor kucing di rumahnya, terus jatuh terpeleset. Mendengar itu, hati saya rasanya plong. Setelah kejadian itu, saya sempat bertemu lagi dengan Arinda sekali. Tetapi suasananya sudah tidak lagi senyaman dan sehangat dulu. Peristiwa kehamilannya kemarin, membuat Arinda jadi menjaga jarak dengan saya. Akhirnya, kami pun berpisah. Tapi sampai sekarang kami masih suka saling telepon hanya untuk sekadar say hello. (xxx-06)