Monday, February 13, 2006

HIPERSEKS, TAK CUKUP SEKALI ORGASME

Sebut saja Hans Winarno (bukan nama asli) seorang pengusaha sukses di bidang perhotelan. Di usianya yang mencapai 51 tahun Hans merasakan dirinya semakin gagah perkasa. Betapa tidak Hans dalam masalah hubungan seks tidak pernah puas hanya sekali. Dalam setiap permainan minimal dua kali bahkan bisa lebih. Tapi itupun dirasakannya masih kurang memuaskan.

Hans mengaku cepat bosan bila berhubungan hanya dengan satu wanita. Ia selalu ingin mendapatkan pengalaman baru dengan wanita lain. Bidang pekerjaannya yang digeluti memang memungkinkannya bertemu banyak wanita. Bila mengenal wanita, Hans selalu berusaha keras untuk bisa merayu dan mengajak si wanita tersebut untuk berhubungan seks. Apapun caranya, Hans dengan gigih akan melakukannya.

Seperti ketika ia mengenal Nadya seorang koordinator SPG yang mengadakan pameran di sebuah hotel. Hans tertarik dan berusaha mendekati. Dari acara makan siang sampai makan malam, Hans terus mencoba memberikan perhatian lebih pada Nadya. Sebagai wanita yang sudah berpengalaman di bidang jasa, Nadya tahu betul gelagat Hans. Nadya lalu tidak meladeni. Karena merasa tidak punya peluang, Hans kemudian mengalihkan perhatian pada Nita asisten Nadya. Gayung bersambut, Nita terperangkap oleh rayuan dan tenggelam dalam permainan seks Hans.

Sekalipun Nita sudah mengikuti segala kemauan Hans, terutama dalam hal seks, Hans masih merasa kurang puas. Ia lalu memburu Wati, rekanan Nita dalam masalah busana. Wati yang berwajah biasa dan berkulit hitam terbuai oleh bujuk rayu Hans, ia-pun terhanyut dalam permainan seks Hans yang seakan tidak pernah terpuaskan. Begitulah Hans yang terus berburu untuk mendapatkan kepuasan.

Cerita lain tentang Wienda (nama samaran). Di usia yang menjelang kepala lima, Wienda justru tampak semakin bergairah. Selama ini Wienda yang bersuamikan Teguh merasa bahwa suaminya tidak pernah mampu untuk memuaskan kebutuhan seksnya. Apalagi Teguh yang pengusaha sukses, waktunya habis tersita untuk masalah bisnis. Sementara di ranjang, Teguh hanya menyisakan kelelahan tubuh.

Perkenalanya dengan Dodi seorang mahasiswa yang tengah magang di kantor suaminya, Wienda seperti mendapatkan jalan keluar. Dodi berhasil dirayu untuk sering menemani jalan. Ketika hubungan semakin jauh, Wienda mengajak Dodi untuk memuaskan kebutuhan seksnya. Awalnya Dodi memang mampu untuk memenuhi keinginan Wienda. Tapi ketika permintaan terus menerus, Dodi akhirnya tidak tahan. Wienda sehari bisa melakukan hubungan seks sampai tiga kali.

Dodi kabur, Wienda sudah ketagihan dengan daun muda. Untuk mengincar para pemuda, Wienda merasa perlu melakukan sebuah cara yang tepat. Dengan harta yang dimilikinya Wienda lalu membangun sebuah rumah kos khusus untuk mahasiswa pria. Dari sekian banyak mahasiswa yang kos, Wienda melihat mana yang tidak mampu bayar. Mereka lalu diperas dengan cara harus melakukan hubungan seks dengannya.

Beda lagi dengan Guntur (bukan nama asli) yang memiliki pengalaman dan keinginan untuk tidur dengan wanita yang berasal dari seluruh bangsa. Guntur khusus mengumpulkan uang untuk dipakai berkeliling dunia dan memenuhi keinginannya untuk berhubungan seks dengan berbagai wanita dari segala bangsa. Dalam perjalanan bisnis pun Guntur selalu mengutamakan wanita penghibur di daerah yang dikunjunginya. Kalaupun uang yang dimiliki pas-pasan, Guntur rela untuk tidak makan siang, merokok atau membeli cinderamata, yang penting bisa berhubungan seks.

Oleh sebab itu wanita penghibur yang dicarinya juga bukan dari kelas yang mahal. Dengan pelacur jalanan pun dilakukannya. Ada rasa bangga bila berhubungan seks dengan wanita setempat. Tapi apakah ia puas setelah bisa merasakan berhubungan seks dengan perempuan berbagai bangsa? Ternyata tidak, Guntur tetap tidak mendapatkan kepuasan. "Rasanya cewek Rusia dengan Indonesia sama saja, saya enggak puas,"katanya.

Cerita seperti ini adalah contoh kasus bagi pengidap penyakit hiperseks. Menurut Dr.Boyke Dian Nugraha SpOG,MARS, ia pernah menemukan kasus-kasus seperti ini. Orang dikatakan mengidap hiperseks, adalah seks yang berlebih-lebihan ditambah lagi adanya gangguan kepribadian. Penderita hiperseks menginginkan banyak melakukan hubungan seks tapi tidak bisa menikmatinya. Tidak pernah merasa puas.

Perkataan hiper atau maniak memang sering menimbulkan konotasi yang kurang baik. Orang yang disebut demikian dianggap terlalu menyukai akan satu hal, sehingga bisa menyingkirkan yang lain. Sebenarnya menurut para ahli hiperseksual bukan dilihat sesering apa orang tersebut melakukan hubungan seks. Tapi bila orang itu mengalami gangguan dan keluhan bila tidak melakukan hubungan intim sesering mungkin.

Orang pengidap hiperseks sangat terobsesi dengan seks, sudah sekali berhubungan ingin mencoba terus seperti kecanduan. Tapi tidak pernah mengalami kepuasan. Saat melakukan hubungan seks menurut dr. Boyke sebagiamana manusia normal. " Ada pemanasan, cumbuan lalu ejakulasi. Tapi usai hubungan dirinya tidak mendapatkan kepuasan seperti perasaan rileks atau tertidur, ia justru semakin gelisah karena tidak ada rasa puas. Lalu muncul keinginan untuk melakukan hubungan seks lagi," kata Boyke.

Ciri umum dari penderita hiperseks bagi kaum pria adalah tidak pernah cukup dengan satu wanita. Selalu mencari perempuan lain. Keinginan berganti-ganti pasangan untuk mendapatkan kepuasan terus bergelora. Kemampuanya mendapatkan banyak pasangan adalah sebuah kompensasi dari kekurangan dirinya. Penilaian bahwa dirinya hebat, perkasa dan superior sangat diharapkan. Apalagi bila jadi gunjingan teman sekantor atau satu klub, bahwa ia terkenal hebat di ranjang dan banyak wanita yang ingin menjadi pasangan atau teman tidurnya.

Keinginan mencoba wanita yang berbeda begitu kuat. Berhubungan dengan wanita yang berkulit hitam atau tubuh bungkuk udang dianggap bisa mendatangkan kepuasan. Ternyata masih belum juga, lalu mencari yang bertubuh besar dengan buah dada besar, itupun masih belum bisa memuaskan.

Bagi wanita keinginan untuk berhubungan dengan berbagai pria juga begitu kuat. Tidak puas dengan pria bertubuh atletis dengan tinggi badan normal, lalu mencoba dengan yang berbulu lebat bertubuh tinggi besar dengan penis yang lebih besar. Ternyata dengan para pria seperti itupun keinginan seksnya masih tidak terpuaskan.

Repotnya para penderita hiperseks justru bangga dengan keadaannya karena kemampuannya melakukan hubungan seks berkali-kali. "Ini bukan sesuatu yang membanggakan, mereka sakit, sebab tidak bisa menikmati orgasme," kata Boyke. Untuk wanita biasa terserang menjelang usia menapouse dan pria menjelang usia 50 tahun. Karena di usia seperti itu mereka mengalami kesepian dan kurang diperhatikan.

Mereka tidak bisa diajak berkomitmen, misalnya dalam hubungan ditingkatkan menjadi sebuah pernikahan. Mereka akan menolak. Hubungan hanya dibutuhkan sebatas seks saja. Sulit diajak membangun hubungan yang langgeng. Karena begitu seringnya melakukan ganti-ganti pasangan menurut dr.Boyke penderita hiperseks pada pria disebut Donjuanism pada wanita disebut Nimfomania.

Uniknya, para penderita hiperseks itu biasanya dianugerahi tampang yang lumayan. Yang pria cukup ganteng dan yang wanita termasuk cantik atau memiliki tubuh yang seksi. Penderita ini sangat terobsesi bila mendapat pasangan yang sulit untuk dirayu. Makin susah, maka semakin tinggi gejolak seks untuk mendapatkannya. Maka tidak mengherankan bila mereka sering melakukan gerakan yang gila-gilaan seperti memberikan hadiah emas berlian agar mampu meruntuhkan orang yang diincarnya.

Orang pengidap hiperseks selalu mengikuti terus perkembangan cerita tentang pesta-pesta seks yang aneh atau tempat-tempat hiburan yang menyediakan acara seks. Mereka juga mengkonsumi obat-obat kuat seperti Viagra atau ekstasi . "Yang saya tahu adalah ekstasi, karena si penderita harus mampu menguatkan fisik agar tahan lama dan terus menerus melakukan hubungan," ujar Boyke.

Penggunaan obat kuat ini karena erat kaitannya dengan fase refraktori atau jeda waktu pada pria saat usai ejakulasi dan kembali untuk bisa ereksi. Pada remaja pria usia 18 tahun waktu yang dibutuhkan untuk bisa kembali rekesi setelah ejakulasi sekitar 15 menit. Usia 30 tahun ke atas membutuhkan waktu 4 jam. Pada pria usia 40-an membutuhkan waktu 1 sampai 2 hari. Sedangkan untuk pria usia 50 tahun keatas membutuhkan waktu seminggu.

Dari penelitian para ahli penderita hiperseks ini memang memiliki gangguan kejiwaan seperti gangguan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Kurang mendapat perhatian atau ditelantarkan keluarga, sehingga ingin mendapatkan perhatian yang berlebih dan itu diungkapkan dalam seks. Jadi semua kenikmatan dia seakan-akan harus dibayar dengan seks.

Pengobatan bagi penderita hiperseks, menurut dr. Boyke selalu konsultasi dengan dokter jiwa. "Karena masa lalu mereka yang pastinya kurang baik. Ada yang menderita karena disiksa oleh ayah atau ibu tirinya. Jadi yang saya utamakan tentunya memperbaiki rasa kejiwaannya," kata Boyke.

Akibat dari semua ini banyak penderita hiperseks yang terkena penyakit kelamin. Pada wanita terkena kanker mulut rahim dan pada pria terkena HIV atau AIDS. "Ternyata pengidap hiperseks ini memang bandel. Sekalipun di hadapan saya sudah bersumpah tidak akan melakukannya lagi karena sudah terkena penyakit kelamin, beberapa bulan kemudian kembali lagi pada saya dan masih terkena penyakit kelamin yang sama," ungkap Boyke.

Penderita hiperseks harus dibedakan dengan pasangan muda yang baru menikah. Pasangan ini bisa melakukan hubungan seks setiap hari karena nafsu dan kemampuannya yang masih bagus. Dalam setiap melakukan hubungan pasangan muda ini selalu mendapatkan kepuasan.

Penderita hiperseks harus dibedakan dengan pria yang beristri banyak. Pria ini memiliki kemampuan seks yang berlebih tapi dalam setiap melakukan hubungan selalu mendapatkan kepuasan. Pria ini juga tidak setiap saat melakukan hubungan seks dengan para istrinya. Ia memiliki jadwal dan melakukan hubungan secara teratur. Bergiliran dua hari sekali dengan istri pertama, kedua , ketiga dan seterusnya. "Ini hubungan normal, hanya saja si pria memang memiliki kelebihan kemampuan. Tapi semuanya dilakukan secara teratur," kata Boyke.

HASIL SEX POLLING

65,22 % Responden Melakukan Seks 1- 3 Kali Seminggu

30,43 % Mengaku Melakukan Hubungan Seks dengan lebih dari Enam Wanita

Berimbang: 50 % Mengeluh dan Tidak Keberatan Melakukan Hubungan Seks Sesering Mungkin

Ketidakpuasan manusia sukar diukur. Dapat satu ingin dua, dapat dua ingin tiga, dan seterusnya. Dan ketidak puasan ini ternyata menggejala juga dalam hubungan seks bersama pasangan.Meskipun responden keseluruhan adalah pria, bisa diketahui bahwa hiperseks bukan lagi istilah aneh. Dari bisik-bisik antarpasangan hingga pembicaraan terbuka lintas pasangan, masalah hiperseks sudah menjadi perbincangan umum. Terkadang, kebiasaan ini dikait-kaitkan dengan selebriti tertentu, dengan kebiasaan kawin-cerainya. Lalu ada kalanya, hiperseks juga dihubung-hubungankan dengan sosok-sosok terkenal tertentu yang diketahui mempunyai istri banyak atau senang berpetualang seks. Tak perduli, apakah alasan beristri banyak tersebut ada kalanya dilandasi oleh pandangan moral atau agama tertentu.

Dalam survei kali ini, 23, 91 % responden mengatakan bahwa hiperseks didefenisikan sebagai keinginan pasangan untuk bermain seks secara terus-menerus atau berulang kali. Apakah hal ini diakibatkan oleh kemampuan fisik yang memang "kuat" atau kebutuhan mental yang "menyimpang", tidak menjadi alasan langsung, kecuali bila data-data yang ada di bawah ini nantinya diamati secara lebih jauh sebagai data mentah untuk penelitian lanjutan.

Begitulah, 36,96 % responden menikah ternyata merasa senang apabila pasangannya mengidap hiperseks. Artinya, ada kesiapan mental dan fisik bagi pasangan tertentu untuk melakukan kegiatan seks secara "berlebih". Dan dari data-data yang masuk, responden dengan tingkat pendidikan S1 dan S2, baik lajang ataupun menikah, ternyata lebih memahami kemampuan hiperseks ini sebagai "keistimewaan" yang layak dipertontonkan atau dilakukan kepada pasangan.

Meski usia muda, antara 25 – 40 tahun menjadi alasan signifikan bagi para responden menyatakan bahwa selesai berhubungan masih mampu ereksi kembali sebanyak 39,13 %, yang diandaikan sebagai kemampuan seks berlebih atau hiperseks – namun dari simulasi data yang masuk, tak tertutup kemungkinan pria lajang berusia 40-an pun mampu dan bersemangat melakoni kehidupan hiperseks. Lajang 40-an memberikan respon positif terhadap semua pertanyaan yang berkaitan langsung dengan layak tidaknya seseorang hiperseks.

Dan ternyatalah, tak ada responden atau 0,00 % responden menyatakan bahwa hiperseks bukanlah kelainan seks yang berkaitan dengan gangguan mental tertentu. Padahal dr. Boyke menyatakan bahwa hiperseks adalah penyakit mental tertentu, yang ditandai dengan kecenderungan tidak mengenal kepuasan seksual. Selalu dihasrati untuk memuaskannya, secara mental, yang terkadang sampai memakan korban: "penyakit seksual" tertentu bagi si hiperseks.

Perbedaan jawaban ini barangkali berkaitan dengan masalah pengetahuan dan pemahaman seks yang berbeda, sementara bantuan obat-obatan dan prasarana untuk "pelampiasan" bagi orang hiperseks cukup meluas, melalui PSK ataupun pergaulan yang bebas. Pergaulan dan kehidupan seks bebas ini bisa disimak juga dari paparan dr. Boyke. Sementara, para responden di usia yang terbilang muda 18 – 25 tahun, dengan variasi pendidikan yang beragam, Diploma berpenghasilan Rp 2 – 5 juta, S1 dan S2 di atas Rp 5 juta, lajang ataupun sudah bekeluarga – menyatakan bahwa seks berlebih adalah kewajaran yang bisa diraih.

Artinya, melalui survei ini, tingginya penghasilan atau status seseorang ternyata tidak berkorelasi positif dengan pengetahuan seks yang meluas dan benar. Pengetahuan seks yang dimitoskan dengan label "kejantanan", atau "keistimewaan yang layak diraih", sebenarnya berseberangan dengan "seks yang benar" dalam pemahaman Boyke. Semua ini adalah karena pengetahuan dan pemahaman seks itu sendiri bisa menyebar kepada siapa saja yang mau menggali dan mengalaminya. Sementara, tak perduli apakah pengetahuan seks tersebut benar atau salah, kegiatan seks itu umumnya selalu dihadapi tanpa prasangka. Dinikmati secara terbuka dan bermartabat. Sekali, dua kali, tiga kali, dalam sehari; atau bersama seorang pasangan, dua orang, ataupun lebih – diharapkan para responden boleh-boleh saja – asalkan fisik dan mental serta pasangan tidak keberatan.(xxx-06-3)