Thursday, April 07, 2005

Lesbian dan Transgender

penulis : MilaBlü <kar_milablu@hotmail.com>
--------------------------------------------------------------------------------
Bagi rekan-rekan yang termasuk suka menyimak berita-berita seputar dunia L/G/B/T, baru-baru ini ada berita cukup heboh. Yaitu tentang perkawinan sejenis yang dikategorikan juga sebagai kasus penipuan. Awalnya perempuan yang berpenampilan layaknya seorang laki-laki tersebut tidak menyatakan dirinya sebagai perempuan. Setelah beberapa bulan pernikahan resmi (akad nikah & resepsi) dilakukan, baru ia mengungkapkan jati dirinya sebagai seorang perempuan (gilanya lagi si transgender ini menikahi beberapa perempuan hetero dari berbagai daerah).

Perempuan-perempuan hetero yang dinikahinya tentu saja kecewa bukan alang kepalang dan merasa ditipu… ternyata suaminya seorang perempuan bukan seorang laki-laki tulen. Dan akhirnya karena tidak tahan lagi hidup dalam perkawinan yang ‘non-habitat’nya, walau mendapat ancaman dari si *trannie, dua dari perempuan yang kena ‘tipu’ tersebut membeberkan kepada wartawan-wartawan dari beberapa majalah dan tabloid tentang kasus ini sekaligus memuat beberapa foto-foto si transgender serta foto-foto perkawinan mereka jelas-jelas.Majalah dan tabloid umum tersebut dibaca oleh masyarakat umum, dan yang langsung ada dibenak saya waktu membaca kasus tersebut adalah: label lesbian kembali tercoreng.

Selama ini masyarakat awam sudah kadung berasumsi bahwa perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki mewakili komunitas lesbian. Jangankan masyarakat awam, kaum lesbian sendiri juga mungkin masih rancu untuk memahami antara lesbian dan transgender, karena selama ini tidak pernah ada upaya untuk memberi pengertian yang jelas tentang lesbian & transgender.

Transgender adalah istilah untuk kelompok:

  • Tampil sebagai wanita/perempuan namun terlahir berjenis kelamin pria (istilah lokal resmi: waria)
  • Tampil sebagai pria namun terlahir berjenis kelamin perempuan (istilah lokal resmi: belum ada - disini kita sebut saja *trannie).

catatan: transgender yang sudah menjalani operasi merubah jenis kelamin disebut: transsexual - contoh: entertainer kondang Dorce Gamalama) Kaum gay tidak dikategorikan sebagai waria, walaupun ada sebagian dari pria gay bergaya "sissy" atau "kemayu" (istilah lokal: "ngondek"), mereka tidak merasa dirinya sebagai perempuan dan tidak ingin menjadi perempuan.Diantara mereka ada istilah lokal: lekong yang berpenampilan cukup macho dan pewong yang berpenampilan “sissy/kemayu/ngondek”.

Dalam kelompok lesbian ada istilah butch (B) yang berpenampilan tomboy dan femme (F) yang berpenampilan feminine.Pada perkembangan selanjutnya muncul istilah "in the middle" atau populer dengan sebutan androgyne, disingkat andro (A), yaitu perpaduan tampilan antara butch dan femme. Lesbian tipe androgyne ini kemudian terbagi lagi, ada yang cenderung tomboy, maka muncul istilah andro butch (AB) atau populer dengan label soft butch (SB). Dan bagi yang cenderung ke feminine, maka diberi label andro femme (AF). Umumnya lesbian tipe androgyne ini lebih fleksible dalam hal memilih pasangan.(Ada juga istilah lokal: sentul & kantil, namun istilah lokal ini cenderung ke hubungan antara trannie dan perempuan heteroseksual atau biseksual, walau tidak semua disamaratakan).

Sama halnya dengan waria, seorang trannie tidak merasakan dirinya sebagai perempuan, melainkan laki-laki, hanya saja takdir mereka harus terlahir dengan tubuh perempuan (‘salah tubuh’). Oleh sebab itu seorang trannie berusaha semaksimal mungkin menyembunyikan ciri-ciri dasar yang dapat menunjukkan bahwa ia bertubuh perempuan. Misalnya, memakai pembebat dada agar buah dada tidak menonjol (dada rata).

Walau lesbian dan trannie memang sama-sama perempuan secara lahiriah, namun terdapat perbedaan psikologis:

Seorang lesbian, tidak mengingkari dirinya sebagai seorang perempuan, walau mungkin ia berpenampilan tomboy.

Seorang trannie, lahiriah memang perempuan, namun dia merasa sebagai seorang laki-laki yang ‘salah tubuh’ (ia tidak suka akan tubuhnya sendiri, merasa sangat malu/menderita waktu mengalami haid). Mereka berusaha semaksimal mungkin berpenampilan dan berperilaku seperti layaknya pria. Umumnya trannie memilih/mengejar perempuan dari kalangan heteroseksual atau bisexual yang feminine untuk dijadikan pasangan.

Seorang trannie pernah mengatakan kepada saya bahwa ia merasa kurang nyaman bila berpasangan dengan lesbian, karena lesbian cenderung menganggapnya sebagai seorang perempuan, bukan laki-laki seperti yang diinginkannya. Jadi tak heran bila incaran para trannie adalah perempuan dari kalangan non-lesbian. Saya pernah iseng ‘mewawancarai’ seorang teman (perempuan biseksual) yang menjalani hubungan dengan seorang trannie. Karena saya dan teman itu cukup akrab maka bertanyalah saya tentang ‘ritual ranjang’ mereka. Dari hasil ‘wawancara’ iseng tersebut, saya berbagi dengan para pembaca, agar mendapat sekilas gambaran tentang trannie.

Seorang trannie sangat malu dan tak nyaman dengan tubuhnya sendiri yang dikatakan ‘salah tubuh’, ia menolak untuk memperlihatkan tubuhnya dalam keadaan telanjang tanpa sehelai benangpun di hadapan pasangannya, bahkan waktu making love, seorang trannie merasa nyaman bila ia tetap mengenakan pakaian dalamnya (pakaian dalam pria, kata teman saya). Atau walaupun ia harus telanjang, keadaan kamar harus gelap agar pasangannya tidak melihat tubuhnya. Jangankan telanjang, disentuh atau diraba bagian tertentu tubuhnya saja ia merasa tak nyaman.

Teman saya bilang: “gue doang yang telanjang mulus dan di explore sana-sini, dia nggak mau gue explore.”

Trannie akan selalu mengambil peran aktif (dominan), dan pasangannya yang feminine tinggal menikmatinya saja explorasi-nya.

Bagi trannie dari kalangan menengah ke atas, adalah umum bila mereka melengkapi diri dengan dildo (beli di sex shop, tersedia beragam ukuran, model, warna). Alat bantu ini boleh dikatakan sebagai ‘main thing’ dalam ‘ritual ranjang’ seorang trannie bersama pasangannya, sebagai pengganti ’the thing’ yang yang tidak dimiliki seorang trannie.

Alat bantu ini dapat membuatnya merasa ‘lengkap/utuh’ sebagai ‘laki-laki’ terhadap pasangannya. Manakala ’the thing’ ini mulai dipergunakan sesuai fungsi terhadap pasangannya dalam ‘ritual tanjang’, maka imaginasi dirinya sebagai seorang ‘laki-laki’ semakin kuat, dan hal ini mampu memberikan sensasi ‘kepuasan’ tersendiri bagi seorang trannie. Menurut hasil ‘wawancara’, tatkala pasangannya tengah menikmati alat bantu tersebut sambil moaning, screaming (well, whatever ), konon si trannie juga bisa ikutan ‘ramai’ seperti menikmati hal yang sama.

Pernah ada berita tentang trannie dari kalangan bawah (yang tertangkap karena memalsukan jenis kelamin dan membohongi perempuan yang dinikahinya di hadapan penghulu, kisah ini pernah dimuat dalam sebuah majalah beberapa tahun silam). Ada satu hal yang bikin saya tertawa waktu membaca kisahnya, si trannie yang berasal dari kalangan bawah ini sampai bisa punya ide bikin dildo made in dewek dari potongan karet ban dalam (mobil?) yang digulung sehingga berbentuk bulat panjang, lalu digunakan terhadap pasangannya. (gila benerrrrr! -red)
Kesimpulannya adalah: obsesi seorang trannie ialah memiliki ‘the thing’ yang tidak dimilikinya.
Sedangkan seorang lesbian tidak terobsesi akan ‘the thing’ itu. Kalaupun ada lesbian yang menggunakannya, mungkin si lesbian punya pacar dari kalangan hetero atau biseksual (teman saya yang biseksual itu, terus terang bilang pada saya bahwa dapat lebih merasakan sensasi kepuasan orgasme bila dibantu dengan sex toy tersebut). Bilapun ada pasangan lesbian kadang mempergunakan sex toy hanya sebagai selingan sekedar berfantasi, atau mungkin hanya sekedar ingin coba/ingin tahu. Namun pada dasarnya lesbian tidak terobsesi dengan ‘the thing’.

Nah para pembaca sekalian, bila ada kasus seorang perempuan berpenampilan seperti laki-laki lalu bikin masalah dengan ‘penipuan’ jenis kelamin supaya dapat mengawini perempuan dari kalangan hetero, atau mengejar habis-habisan dan mengancam lalu melukai atau bahkan membunuh perempuan heteroseksual/biseksual yang telah membuatnya kecewa mendalam dan marah (telah menolak dirinya atau telah mengkhianatinya), jangan langsung memastikan dia lesbian.

Jadi sekali lagi perlu diterangkan bahwa:

  • Lesbian adalah lesbian, terlahir dengan jenis kelamin perempuan, tidak mengingkari diri sebagai perempuan. Preferensi hubungan: dengan sesama lesbian, namun tidak tertutup kemungkinan menjalin hubungan dengan perempuan biseksual atau heteroseksual yang ingin tahu, bila sama-sama saling menyukai.
  • Trannie adalah trannie, terlahir dengan jenis kelamin perempuan, menyatakan diri sebagai laki-laki. Preferensi hubungan: dengan perempuan heteroseksual dan biseksual yang berpenampilan feminine.

*********