Sunday, May 16, 2004

Menelusuri Pelacuran ABG di Medan, Sumatra Utara

MEDAN - SUMUT

Di Medan, 'Onces' Mengincar 'Tubang'

BRONCES atau onces itu panggilan khusus untuk pelacur ABG di Medan. Di kalangan onces pun memberikan istilah tersendiri pula untuk mangsanya. Tubang (tua bangka) tapi tebal kocek.

Tubang yang istilah umumnya adalah "om senang" incaran para onces, di plaza atau lantai disko. Biasanya tempat yang disenangi remaja Medan adalah Ari King-King di Hotel Dano Toba, atau House Musik di Jl Perdana Medan, dan masih ada beberapa tempat lainnya.

Dentuman musik yang menggema di Ari King-King Discotiq, membawa suasana malam yang semakin dingin itu menjadi hangat. Tiga ABG di salah satu sudut lantai disko asyik terus bergoyang, matanya terus melahap semua pengunjung yang datang. Mereka bergaya meliuk-lukkan tubuhnya agar menjadi perhatian tamu yang baru datang.

Masuk Ari King-King memang harus waspada bagi yang belum biasa, sebab bisa-bisa terjebak dalam kelompok khusus pengguna ekstasi atau shabu. Yang pasti penggemar dua jenis narkoba itu setiap masuk tempat hiburan pasti membawa serta barang tersebut.

Pengunjung yang ingin onces biasanya menghidupkan korek api, pelayan pun datang. Pesan minuman, sekaligus onces. Para onces yang sejak tadi terus mengamati arah hidupnya api geretan, memberi kode pada sang pelayan. Lewat gerak bahasa kepala, meski dalam situasi remang-remang itu si onces mengerti yang mana yang dikehendaki. Malam itu, tiga onces sepertinya sudah terlalu lama bergoyang namun belum ada tawaran. Mata mereka semakin liar. Sebab malam sudah semakin larut.

Begitu menerima kode dari sang pelayan, mereka serentak memandang. Ternyata yang tinggi semampai berjins ketat warna cokelat tua, dengan blus ngepas putih, rambutnya tergerai sebatas pinggang, ada giwang kecil di telinganya, yang dapat tawaran.

Ita, 17, nama onces yang cakep itu. Diajak ngobrol dia langsung akrab, dan bercerita apa adanya. Ita tak segan mengemukakan asal mulanya dia terjun ke dunia yang digelutinya.

Tujuan pertama karena Ita ingin senang dan ingin menikmati semuanya. Kalau tidak, cuma bisa lihat di televisi. ''Ita kan kepingin mewah, beli pakaian mahal. Ngarepin dari bokap, wah nggak bakalan, ah.... Tapi sampai sekarang juga mereka nggak tahu kok,'' katanya.

Ita yang mengaku masih duduk di kelas III salah satu SMU Swasta di Medan mengaku, pertama kali di-booking seorang tubang. Selama tiga hari, Ita dibayar Rp 1 juta. Seperti disambar geledek rasanya Ita menerima uang sebanyak itu. Sementara selama ini untuk sekolah saja pun terus sulit biaya.

Ayahnya juga pegawai di sebuah bar kecil kawasan Nibung Raya, Medan, seperti kurang perhatian pada keluarga. Ita saat itu kelas II SMU, tiga lagi adiknya menunggu. Ibunya sering sakit-sakitan. Dia pernah bertanya kepada temannya yang hidupnya kelihatan mewah. Ternyata melakukan cara itu.

''Kegadisanku dibayar Rp 1 juta. Tapi aku rela. Semuanya demi hidup. Diam-diam aku bayar semua keperluan sekolah adik-adikku. Untuk menutupi pekerjaan di mata orang tua, aku mencoba mengambil pakaian jadi, dan menjualnya secara cicil, kepada tetangga dan teman-teman. Aku libatkan dua adikku untuk mengutip cicilannya. Tak ada orang yang mencurigaiku. Sambil menjajakan pakain, aku juga bersedia jika diajak 'ngamar'. Sering itu terjadi," katanya.

Ada om membeli satu kemeja, dan sepasang kaus kaki seharga Rp 500.000,- berikut dirinya. Atau terkadang Rp 200.000,- pun jadi. Bahkan di bawah tarif itu juga pernah. Yang penting saku dapat uang dan senang. Jalan ke mana saja, makan enak, tidur di temat yang luks dia jalani. "Kalau tidak pulang alasanku, keluar kota."

Tapi belakangan ini Ita mulai bosan dengan cara itu. Ia ingin naik kelas, dan mulai masuk diksotek satu berganti ke diskotek lainnya di kawasan Kota Medan. Dagangannya pun mulai dipegang adiknya.

Kalau di diskotek sebenarnya uang tidak terlalu banyak, kalau sabar memang ada. "Tapi aku senang bisa dapat ekstasi gratis, yang penting kita mau gabung, untuk on. Kalau sudah on kita bisa lupa yang lain, jadi duitnya apes. Aku sih... selalu ingat, bahwa aku berbuat semua ini untuk uang. Jadi untuk on, aku ikut kalau kepingin," katanya.

Ita malam itu kebetulan masih menunggu temannya yang biasa memberinya ekstasi. Sambil mengisap rokok putihnya dalam-dalam, lalu mengepulkan asapnya ke udara. Dia bercerita tentang awal perjalanannya sampai ke dunia bonces, yang tidak diketahui sampai kapan bisa ditinggalkannya. Ketika itu Ita masih di kelas II dan sangat perlu uang. Tidak tahu ke mana lagi mau diminta. Seorang teman menyuruh Ita menemui Tante May di kawasan Jl Mandala By Pass, Medan.

Ita datang dan langsung minta kerja, May paham akan perminaan Ita. May minta Ita berjanji tidak bakal ada tuntutan di belakang hari. May membawa Ita ke Deli Plaza, kenalan dengan seorang tubang. Awalnya Ita ngeri melihat orangnya, ternyata dia baik hati.

Ita selalu memberi advis baik kepada calon pembeli, seperti lebih dulu menghidupkan korek api bila calonnya ingin merokok. Merapatkan duduk dengan menempelkan payudara di lengan si pria. Sesekali Ita mencium leher tepat di bawah telinga teman duduknya, atau meletakkan lengannya di paha. Tapi ada juga pria yang cukup dengan kerdipan mata, dan tatapan manja. Ita juga mengaku, tak semua pira gampang digoda. Satu kali Ita pernah kena batunya, letih menggoda, pria itu tetap tegar.

"Orangnya ganteng, perlente, dan tebal kocek. Tak satu pun onces yang berusaha merayunya berhasil, semua gagal. Akhirnya kalau pria itu ke Ari King-King kita hanya memandang dari jauh. Tapi pria itu juga mau memberikan kita uang, karena sudah menemaninya. Lumayan juga, untuk ongkos taksi," katanya

Ita mengaku, tujuannya memang uang dan kemewahan, tapi tetap ingin sekolah. Minimal tamat SMU, buat bekal, suatu ketika sudah tak berada di dunia onces lagi.

Ita sudah pernah aborsi. Tapi hamilnya baru satu bulan, biayanya waktu itu Rp 1,5 juta. Istirahat dua minggu, lalu bekerja lagi. Tapi Ita tetap sekolah, hanya tiga hari permisi, alasan sakit. Kepada orang tuanya, Ita beralasan mens datangnya tersendat, jadi terlalu sakit. Ibunya malah membuatkan jamu agar haidnya lancar.

"Itu adalah pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Untuk menjaga agar tidak hamil saya lakukan dengan suntikan. Sampai sekarang masih aman," katanya.

Perasaan Takut Memang Selalu Ada

CICI, 15 tahun, seorang pelajar SLTP swasta kelas III yang kost di kawasan Jl Gatot Subroto, Medan, awalnya terjun ke dunia pelacuran karena kehabisan uang, sementara kiriman dari orang tuanya di Tanah Karo sudah habis untuk berfoya-foya.

Untuk menghilangkan suntuk, suatu hari Cici nongkrong di Olympia Plaza, Medan. Tak sadar ada seseorang berdiri di sisi Cici ketika ia sedang asyik melihat-lihat satu blus bagus dan mahal. ''Cantik ya... mau?'' kata orang itu, Cici senyum. Pria itu menyuruh Cici mengambilnya, sambil membujuk. Cici pun mengambil pakaian itu. Lalu berkenalan dan mereka makan.

Setelah itu Cici di bawa ke kota dingin, Brastagi. Satu malam Cici bersama pria perlente dan ganteng itu. Setelah malam pertama Cici menangis karena takut hamil dan rasa sakit ketika pipis. Dia membujuk sambil memberi Cici uang, untuk membeli obat antihamil dan krem olesan supaya tidak perih. Jumlahnya, lumayan Rp 300.000. Kesulitan Cici pun teratasi.

Perasaan takut memang selalu ada, tapi karena 'lukanya' sudah sembuh, Cici jadi ketagihan. Terus sering mangkal di plaza itu, berganti-ganti pasangan siapa saja yang mengajak. Sejak itu Cici tidak peduli lagi, kapan pun kiriman orang tuanya datang.

Kalau tidak di plaza, Cici mangkal di Copa Cobana. Di tempat itu Cici tidak perlu jauh-jauh kalau ada yang minta, sebab sudah tersedia kamar berikut segala makanan yang ingin dipesan. Dengan musiknya juga enak di tempat itu.

Di Copa, memang onces-nya hampir seluruhnya sebaya Cici. Di tempat ini tak semua bisa diajak ngamar. Ada yang hanya untuk peci-peci saja. Artinya sebatas peluk cium. Umumnya tamu yang datang ke Copa Tubang yang sudah pantas dipanggil eyang oleh onces. Banyak yang berbadan gemuk, minta diladeni semuanya. Kata Tia, teman Cici yang spesialis peci.

Tia memang perlu penampilan dan gaya, meskipun orang tuanya tergolong menengah. Tapi karena Tia ingin yang lebih, lalu mencari jalan sendiri. Tia mengaku sudah tiga bulan di Copa, dan bisa mejeng, dan bisa beli apa saja. Kalau omnya baik, uang tipnya lumayan, Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Kalau ada yang mengajak, Tia selalu berterus terang, masih ingin sekolah, dan selalu mengingatkan si om akan anaknya yang sebaya dengannya. Karena Tia ingin cari biaya seolah. Biasanya om itu kasihan melihat Tia.

Tia penampilannya selalu dengan rok mini, dengan pakaian dalam di lapisan celana short ketat yang sulit dibuka. Dan tidak bisa di-obok-obok. Tapi untuk pinggang ke atas, memang Tia mempersilakannya. Tia merasa senang, pulang sekolah ke Copa, banyak teman. Orang tua mengiranya tetap les bahasa Inggris. "Memang saya tetap hapal, bila ditanya ayah, tetap bisa menjawab," katanya.

Jadwal les yang lima kali seminggu, paling satu atau dua kali diikuti. Kadang dalam seminggu sama sekali tidak masuk, tergantung selera. Tapi ke Copa, Tia jarang berseragam sekolah karena pernah dilarang, dulu temannya pernah kena razia dengan seragam itu.

Cici dan Tia memang berteman setelah kenal di Copa. Cici kost bersama 12 orang di satu rumah. Ibu kostnya tidak pernah curiga karena sebelumnya Cici memang sering ke luar rumah untuk les, atau kerja kelompok. Karena teman kelompoknya juga sering ke tempat Cici dan ada yang bermalam. Tapi teman-temannya ada yang mulai usil melihat penampilan Cici yang terus-menerus ganti baju mahal. Untuk menyumbat mulut rekannya, Cici tak segan meminjamkan baju, sepatu, tas atau sandal, bagi teman kostnya yang ingin gaya. Ada juga yang tahu kalau Cici anak orang kaya di kampungnya.

Pengalaman Yuni, 16 kelas II SMU swasta dan kelompoknya yang berlima lain lagi. Mereka mangkal di kafe tenda depan Stadion Teladan Medan. dari tempat itu mereka biasa dijemput mobil. Dan kalau Yuni dan rekan belum tiba, pemilik kafe yang masih bujangan itu selalu memberi penjelasan kepada si penjemput. Ataupun meneelpon Yuni lewat telepon umum. Yuni dan rekan tampil masih dalam seragam sekolah.

Mereka biasa ganti pakaian di toko atau plaza, setlah dibelikan si om, atau ada juga pria-pria muda. Tapi mereka lebih senang dengan om karena duitnya diobral, "kita bebas mau makan apa saja," katanya.

Yuni selalu mengenakan tas besar, baju dan sepatu masuk di dalamnya. Sebelum pukul 19.00, Yuni sudah harus pulang. Karena jam itu adalah waktunya pulang les. Yuni selalu berganti baju di mobil. Dan menyimpan pakaian barunya ke dalam tasnya. Bila orang tua bertanya, asal baju tersebut Yuni menjawab ringan, ''Beli di Monza, hanya Rp 5.000 pakai uang jajan."

Di Medan memang dikenal, Monza (Mongonsidi Plaza), tempat berdagang pakaian bekas impor. Di sini banyak pakaian berkualitas tinggi kalau rajin memilih harganya murah, karena bekas. Yuni selalu membuat pakaian baru itu lecek, (kumal) dan menyimpan mereknya. Bila sudah dicuci dua atau tiga kali, dipasang kembali. Tak da yang tahu, kalau yang tahu kalau Yuni sudah punya gaun mahal.

Uang bagi Yuni nomor dua, yang penting punya barang-barang mahal, minimal buat koleksi.

Sementara Rose, 19, mahasiswi salah satu PTS di Medan lain lagi ceritanya, keluarganya cukup terpandang dalam bidang ekonomi, tapi Rose suka pesta seks dengan sabu-sabunya. Sekarang Rose lagi istirahat karena sakit. Ia mengaku kena sakit kelamin dan kecanduan narkoba. Rose dengan kelompoknya sering ke Fire Diskotek Thamrin Plaza, kalau mau, mereka cari hotel mewah. Sampai delapan orang satu kamar. Setelah masing-masing puas, mereka pulang esok paginya.

Uang, mobil, pakaian, bagi Rose tidak masalah, tapi Rose ingin bebas, mencari kenikmatan tanpa ikatan. Hampir semua hotel berbintang, sudah dijelajahi Rose dan kelompoknya delapan orang. Mobil mereka dari mulai Daihatsu Rocky, sampai Suzuki Vitara, dan Mercy.

Tapi mereka gandrung ekstasi. Yang dicari Rose gadis berkulit kuning langsat dengan rambut dicat pirang sebatas pinggang itu, semata hanya kepuasan dan kebebasan.

Tempat mangkalnya di mana saja yang mereka senangi, sering juga di kafe tenda, sebab semua mereka menggunakan HP dan pager, mudah dihubungi. Mereka kelompok kelas tinggi.

Kalau Rose naksir cowok teman sekampusnya, kelompok ini berupaya menjebaknya agar ikut bersama mereka. Biasanya Rose dibantu rekan-rekannya dan sering kali berhasil. Biasanya kalau ingin tukar pasangan selalu sama-sama. Bagi pasangan baru, tidak akan bisa lepas sebelum mereka betul-betul puas.

TAMAT

NB. Hi guys itulah sekelumit daripengalaman teman2 gue, ABG Bispak di kota kota lain, akalu mau ada yang sharing silahkan tulis email loe di tag board nanti gue hubungin... OK...

33 comments:

Anonymous said...

minta no hape ayam kampus dimedan.
Contact person 085275395430

Anonymous said...

no hp abg bispak medan nya bos??

Anonymous said...

Hubungi sy skrng dan dtng mlm ini juga hp 081388395996

Anonymous said...

Sy butuh bispak abg di medan, mlm ini juga,bsk sy sdh blk ke jkt...hp sy 081388395996...sy byr brp aja yg km minta...txs

Anonymous said...

Sy butuh bispak abg di medan, mlm ini juga,bsk sy sdh blk ke jkt...hp sy 081388395996...sy byr brp aja yg km minta...txs

Anonymous said...

saya butuh tgl 2
hub saya di
yogazul209@gmail.com

Khairunnisa Ica said...

mana ada itu di medan! buktinya blm pernah jumpa itu sama saya! kl memang ada mana no hpnya?

Anonymous said...

Omong kosong... Medan kurang untuk yg beginian.. org2 nya kaku..

Anonymous said...

Saya butuh cepat, book long time. Soalnya besok ato lusa mungkin udah pulang ke solo lagi. Medan sekitaran Padang bulan only. Harga terserah..

Anonymous said...

Saya butuh cepat, book long time. Soalnya besok ato lusa mungkin udah pulang ke solo lagi. Medan sekitaran Padang bulan only. Harga terserah.. Hub. 085277237563

Anonymous said...

Aku mau jual keperawananku, butuh uang 10 juta, umurku baru 15 tahun, bila ada yg minat silahkan tinggalkan telepon

mutia said...

aku mau

lim ta wei said...

Brp klo short time ?

daniel saptanov said...

Boleh jg tuh..

daniel saptanov said...

Klw emnk ada boleh lah agak di atur dulu...

Anonymous said...

lagi butuh duit banget. masih perawan
087892665782

Anonymous said...

Cwek2 yng bisa pakek merapat ke aku semua yng highclass ya hub:081362023195 cwek kesepian hub aj itu biar jalan kita atau senang2 laa

Anonymous said...

Gua butuh mlm ne ...
Ada gk yg bisa pakek
harga gk masalah

Anonymous said...

butuh untuk tgl 15 juli, 8 orang bispak masih rapat gk perawan gpp, hubungi : 089620691343

alex said...

ada cewek bispak yg mau diajak kencan nih dia lagi butuh duit lokasi di kota medan

anggiprihadi said...

082272662411

herman top said...

krim no hp/email cwe mau.
ke hermantop505@gmail.com
kode cwe mau_email/no hp_nama_umur

Anonymous said...

082167640478

Anonymous said...

Saya cari cwek bispak
Ni sy 082292435991
Law mau sms aja

edo said...

Saya cari cwek bispak
Ni sy 082292435991
Law mau sms aja

Anonymous said...

Hub 081992157290

Anonymous said...

Ck - cr daerah halat !

Anonymous said...

Hotel aryaduta hr senin tgl 11 agustus 2014.., cewek manis dan putih dtg aja pasti tdk kecewa.., hub 085214988028

Anonymous said...

saya naura usia 23 tahun masih perawansay butuh uang 25 juta untuk bayar rumah sakit kakak saya mohon bantuannya untuk para om baik ini no saya 087768021241

Anonymous said...

naura tinggal di medan, hubungi saya segera ya. butuh banget soalnya gak tau lagi mau cari uang di mna.banyak yg bilang saya kalem dan mais orangnya

Anonymous said...

Msh butuh uang...?

Anonymous said...

Kemana menghubunginya....

Anonymous said...

Butuh abg di Medan
kirim foto ke waris_ng@yahoo.com