Tuesday, May 11, 2004

Menelusuri Pelacuran ABG di Makassar, Sulawesi Selatan (IX)

MAKASAR - SULAWESI


Antara Ogi dan Cici


Berbeda lagi dengan Ogi, menggeluti dunia pelacuran memang semata-mata karena butuh uang untuk hidup. Anak bungsu dari dua bersaudara ini, orang tuanya hanya daeng becak (tukang becak).

Gadis berparas cantik ini, dalam usia yang sudah 16 tahun, hidupnya lebih mapan. Ia memiliki handphone dan pakaian serta alat kecantikan yang diapakai dari merek-merek terkenal.

Ia adalah salah satu penghuni Losari, yang oleh teman-temannya dianggap sudah 'sukses', karena sudah pernah kawin kontrak dengan seorang pria warga negara Jepang.

Ia meninggalkan Pantai Losari, karena mendapat lokasi lain yang lebih menjanjikan, "Ada yang mengajak saya kerja sebagai pelayan di salah satu karaoke," katanya.

Berangkat dari situ, ia ingin meraih 'prestasi'. Ia ingin memerankan peran ganda baik sebagai pelayan bir maupun sebagai budak nafsu. "Mulanya saya ragu menawarkan diri," katanya. Namun alangkah girangnya bukan main ketika seorang warga negara keturunan Tionghoa memberinya uang Rp 200.000 setelah diajak kencan.

Selain di tempat itu, mereka juga bisa ditemui di bioskop Studio 21 atau di pinggir Jalan Dr Sam Ratulangi. Salah satu ABG yang mangkal di Jl Sam Ratulangi, Ogi, 18 tahun. Ia hanya mau diajak kencan oleh orang-orang gedongan dengan imbalan Rp 250.000 hingga Rp 400.000.

"Gengsi dong kencan dengan sembarang orang," katanya. Dengan demikian, wajar jika bisa memakai handphone serta pakaian bermerek lainnya. "Kalau bukan di hotel saya tidak mau kencan," katanya. Paling tidak, hotel kelas melati.

Sebenarnya, Ogi bukanlah berasal dari kalangan keluarga miskin. Tetapi mengapa sampai terjerumus ke lembah nista? Menurut dia, akibat kegagalan membina hubungan dengan kekasihnya, telah membuatnya kehilangan harapan. Yang membuatnya lebih sakit, karena yang merebut kekasihnya itu adalah keluarganya sendiri. Akhirnya lari dari rumah untuk hidup di 'alam bebas', "Saya sekarang ngontrak rumah," katanya.

Ia kini telah hidup sebagai istri peliharaan dari seorang pengusaha berkewarganegaran Tionghoa, selain juga berkencan dengan banyak pria.

Cici, 16 tahun juga memasang tarif cukup mahal, Rp 250 ribu sekali kencan. Penampilan sama sekali tidak mengesankan sebagai etek. Bahkan bisa dibilang sangat sopan. Ia juga tidak ingin menjajakan diri secara terbuka. "Saya tidak biasa mangkal di tempat terbuka," katanya. Selama ini ladang operasinya, lebih banyak menjaring mangsa di night club seperti Ziqzaq di Makassar Golden Hotel (MGH) atau di M Club Kawasan perumahan elite Panakukang Mas.

Etek 'elite' ini, dalam beroperasi memiliki kata sandi. Biasanya mereka mengatakan mau ke ATM jika ditanya oleh rekan-rekannya saat ke luar dari rumah, "ATM, kan identik dengan uang," tutur Cici.

Menurut dia, sudah banyak pria yang mengajaknya kencan di berbagai hotel, kelas melati maupun berbintang. Ia menyebut beberapa hotel seperti yang terletak di Jl Emy Saelan, Jl Cenderawasih, Jl Bhayangkara, Jl Penghibur, dan Jl Dr Samratulangi. Soal tarif, bagi pria yang tidak begitu dikenalnya tidak ada kompromi. "Nginap bisa Rp 400.000. Kalau hanya dua sampai tiga jam saja, Rp 250.000 sampai Rp 300.000," ujarnya.

Bagi Cici, tidak semua uang diperolehnya berasal dari 'hasil keringat' begituan, "Ada juga ngasih uang karena pertemanan," ujar. Pengalamannya, tidak semau laki-laki hidung belang yang mengajak kencan langsung masuk kamar. "Keliling kota dulu atau menikmati hidangan di warung atau restauran," ujarnya lagi.

Cara mencari mangsa, tidak terang-terangan. Mereka tetap berusaha menahan diri. Biasanya diawali obrolan basa-basi di dalam night club, "Lelaki yang punya pengalaman, tentu langsung bisa menangkap apa arti obrolan itu," ujar Cici.

Mereka juga bisa mencari mangsa melalui germo atau cukung. Salah seorang cukong, Sun, 26, tahun mengaku mendapat penghasilan Rp 50.000 tiap malam, "Satu wanita komisinya Rp 10.000," ujarnya.

Sun yang kawasan operasinya di Makassar Golden Hotel (MGH) tidak sungkan mempromosikan 'produknya', "Ada namanya Yana, Evi. Semuanya anak belasan tahun yang penampilannya oke," katanya.

Menurut Cici, yang paling tidak menyenangkan kencan dengan pria, kalau menuntutnya macam-macam, seperti oral seks atau melalui bagian 'belakang'. Karena segan lantaran sudah dibayar, biasanya dipenuhi juga, "Sebenarnya jijik. Tapi cara mengatasinya, merem aja," ujarnya.

bersambung ...

No comments: