Monday, April 04, 2005

Survei: Remaja Indonesia Punya Pengalaman Seks Sejak Usia 1

sumber: Kompas Cyber Media, Jumat, 28 Januari 2005


Siapa nyana, ternyata sebagian besar remaja merasa tidak cukup nyaman curhat sama orang tuanya, terutama bertanya seputar masalah seks. Makanya, mereka lebih suka cari tahu sendiri melalui sesama teman ... dan nonton blue film.

Setidaknya, hasil itu menjadi salahsatu kesimpulan yang mengemuka dalam paparan hasil penelitian Synovate Research tentang perilaku seksual remaja di 4 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan.

Survey ini mengambil 450 responden dari 4 kota itu dengan kisaran usia antara 15 sampai 24 tahun, kategori masyarakat umum dengan kelas sosial menengah keatas dan kebawah. Selain itu, juga diberikan pembagian terhadap para responden ini berdasarkan aktivitas seks yang aktif dan pasif.

Dari penelitian yang dilakukan sejak September 2004 itu, Synovate mengungkapkan bahwa sekitar 65% informasi tentang seks mereka dapatkan dari kawan dan juga 35% sisanya dari film porno. Ironisnya, hanya 5% dari responden remaja ini mendapatkan informasi tentang seks dari orang tuanya.

Para remaja ini juga mengaku tahu resiko terkena penyakit seksual (27%) sehingga harus menggunakan kontrasepsi (27%). Tapi, hanya 24% dari responden ini yang melakukan preventiv untuk mencegah penyakit AIDS menghinggapi mereka.

Berpengalaman sejak 16 tahun

Dalam penelitian ini juga menarik untuk melihat pengalaman seksual remaja di 4 kota ini. Sebab, 44% responden mengaku mereka sudah pernah punya pengalaman seks di usia 16 sampai 18 tahun. Sementara 16% lainnya mengaku pengalaman seks itu sudah mereka dapat antara usia 13 sampai 15 tahun.

Selain itu, rumah menjadi tempat paling favorit (40%) untuk melakukan hubungan seks. Sisanya, mereka memilih hubungan seks di kos (26%) dan hotel (26%).

Uniknya, para responden ini sadar bahwa seharusnya mereka menunda hubungan seks sampai menikah (68%) dan mengerti bahwa hubungan seks pra nikah itu tidak sesuai dengan nilai dan agama mereka (80%). Tapi, mereka mengaku hubungan seks itu dilakukan tanpa rencana. Para responden pria justru 37% mengaku kalau mereka merencanakan hubungan seks dengan pasangannya. Sementara, 39% responden perempuan mengaku dibujuk melakukan hubungan seks oleh pasangannya.

Karenanya, ketika ditanya bagaimana perasaan para responden setelah melakukan hubungan seks pra nikah itu, 47% responden perempuan merasa menyesal karena takut hamil, berdosa, hilang keperawanan dan takut ketahuan orang tua.

"Mereka juga tahu bahwa ada beberapa jenis penyakit yang ditularkan dari hubungan seksual. Misalnya 93% tahu tentang AIDS dan 34% tahu Sipilis. Kalau tentang AIDS, mereka 82% tahu dari televisi, 20% dari internet dan hanya 10% yang tahu dari orang tuanya," kata camita Wardhana, Project Director Synovate yang mempresentasikan hasil penelitian ini.

Perlu informasi lebih lengkap

  • Meskipun hasil penelitian ini bukan hal yang baru bagi masyarakat saat ini, tetap saja perlu hati-hati menyikapinya agar tidak menjadi salah persepsi.

Adrianus Tanjung, Kepala Divisi Komunikasi Informasi, Edukasi dan Advokasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) melihat, meskipun hasil penelitian ini memberikan gambaran rata-rata pada perilaku remaja kita saat ini, ada beberapa faktor yang bisa saja bias.

"Seperti pembagian remaja yang aktif dan pasif secara seksual dalam penelitian ini, masih bisa diperdebatkan. Misalnya, apakah jika remaja yang pernah sekali melakukan hubungan seksual tapi lalu tidak melakukannya lagi, itu tetap dalam kategori aktif secara seksual?"

Namun, ia melihat bahwa hasil penelitian ini memberikan kecenderungan yang makin menguat bahwa para remaja ini membutuhkan tempat yang nyaman untuk mencurahkan perasaan atau bertanya seputar seks.

"Mereka sulit tanya ke orangtua karena bisa aja orangtua nggak tahu .Selain itu, mungkin juga mereka membutuhkan tempat yang didesain nyaman supaya mereka mau datang ke konseling seks," tambah Tanjung.

Sebab itu, PKBI yang juga pernah mendapatkan hasil serupa dari penelitian sejenis beberapa waktu lalu ini, menurut Tanjung, akan mencoba memberikan konseling lebih detil tentang alat-alat reproduksi kepada remaja. Caranya dengan masuk ke sekolah-sekolah melalui kegiatan ekstra kulikuler seperti Pramuka.

"Ini penting agar mereka mengerti organ reproduksi mereka sendiri, mulai dari pembuahan sampai hamil dan melahirkan. Dengan begitu, mereka akan lebih dapat menjaga diri sendiri, tahu resiko-resikonya, meskipun tidak selalu dalam pantauan orangtua," demikian Andrianus Tanjung. (Lily Bertha Kartika)



Kos-kosan Jadi Ajang Seks Bebas

Jangan pernah 100% percaya sama anak-anak kita yang kos. Buktinya di kota pelajar di Yogyakarta, pola hidup seks bebas makin berkembang dengan serius. Soalnya pengawasannya kan longgar banget. Sementara pengaruh kehidupan seks bebas ke mereka itu kencang banget.

Ini bukan cuma isapan jempol loh! Memed tahu informasi ini dari hasil survei yang dilakukan Pusat Studi Wanita Universitas Islam Indonesia (PSM-UII) Yogyakarta. Mereka melakukan survei ke tempat-tempat kos dan pondokan.

Hasil survei menunjukkan, jumlah pelajar di Yogyakarta sebesar 121 ribu atau sekitar 25% dari penduduk kota yang jumlahnya 490 ribu orang, mendorong makin suburnya bisnis rumah kos di kota ini.

Sementara tingkat pengawasan dari pemilik kos maupun pihak orang tua makin longgar sehingga makin banyak remaja yang terjebak ke dalam pola hidup seks bebas karena berbagai pengaruh yang mereka terima baik dari teman, , dan pengaruh lingkungan secara umum.

"Sekuat-kuatnya mental seorang remaja untuk tak tergoda pola hidup seks bebas kalau terus menerus mengalami godaan dan dalam kondisi sangat bebas dari kontrol tentu satu saat akan tergoda pula untuk melakukannya. Godaan semacam itu terasa lebih berat lagi bagi remaja yang memang benteng mental dan keagamaannya tak begitu kuat," kata Kepala PSW UII Dra. Trias Setiawati, M.Si.

Makanya, Trias desak Walikota Yogyakarta segera memperhatikan ancaman degradasi moral di kalangan remaja tersebut dengan mengeluarkan ketentuan wajib adanya kontrol yang ketat bagi para pemilik rumah kos, serta menindak tegas warung-warung persewaan VCD dan Internet yang memeberi tempat gambar cabul bagi kaum remaja.

"Masalah ini akan lebih efektif bila diatasi dengan adanya kesadaran dari para pemilik kos sendiri untuk melakukan pengawasan intensif kepada anak-anak kosnya secara proporsional. Yang paling efektif tentu saja kalau ada kesadaran dari orang tua masing-masing siswa untuk memilihkan tempat kos yang layak dan aman serta membekali putera-puteri mereka dengan benteng ajaran agama yang kokoh," ujarnya kepada Antara,· Sumber: Satumed.com


Survei: Remaja Indonesia Punya Pengalaman Seks Sejak Usia 1

sumber: Kompas Cyber Media, Jumat, 28 Januari 2005

Siapa nyana, ternyata sebagian besar remaja merasa tidak cukup nyaman curhat sama orang tuanya, terutama bertanya seputar masalah seks. Makanya, mereka lebih suka cari tahu sendiri melalui sesama teman ... dan nonton blue film.

Setidaknya, hasil itu menjadi salahsatu kesimpulan yang mengemuka dalam paparan hasil penelitian Synovate Research tentang perilaku seksual remaja di 4 kota, yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan.

Survey ini mengambil 450 responden dari 4 kota itu dengan kisaran usia antara 15 sampai 24 tahun, kategori masyarakat umum dengan kelas sosial menengah keatas dan kebawah. Selain itu, juga diberikan pembagian terhadap para responden ini berdasarkan aktivitas seks yang aktif dan pasif.

Dari penelitian yang dilakukan sejak September 2004 itu, Synovate mengungkapkan bahwa sekitar 65% informasi tentang seks mereka dapatkan dari kawan dan juga 35% sisanya dari film porno. Ironisnya, hanya 5% dari responden remaja ini mendapatkan informasi tentang seks dari orang tuanya.

Para remaja ini juga mengaku tahu resiko terkena penyakit seksual (27%) sehingga harus menggunakan kontrasepsi (27%). Tapi, hanya 24% dari responden ini yang melakukan preventiv untuk mencegah penyakit AIDS menghinggapi mereka.

Berpengalaman sejak 16 tahun

Dalam penelitian ini juga menarik untuk melihat pengalaman seksual remaja di 4 kota ini. Sebab, 44% responden mengaku mereka sudah pernah punya pengalaman seks di usia 16 sampai 18 tahun. Sementara 16% lainnya mengaku pengalaman seks itu sudah mereka dapat antara usia 13 sampai 15 tahun.

Selain itu, rumah menjadi tempat paling favorit (40%) untuk melakukan hubungan seks. Sisanya, mereka memilih hubungan seks di kos (26%) dan hotel (26%).

Uniknya, para responden ini sadar bahwa seharusnya mereka menunda hubungan seks sampai menikah (68%) dan mengerti bahwa hubungan seks pra nikah itu tidak sesuai dengan nilai dan agama mereka (80%). Tapi, mereka mengaku hubungan seks itu dilakukan tanpa rencana. Para responden pria justru 37% mengaku kalau mereka merencanakan hubungan seks dengan pasangannya. Sementara, 39% responden perempuan mengaku dibujuk melakukan hubungan seks oleh pasangannya.

Karenanya, ketika ditanya bagaimana perasaan para responden setelah melakukan hubungan seks pra nikah itu, 47% responden perempuan merasa menyesal karena takut hamil, berdosa, hilang keperawanan dan takut ketahuan orang tua.

"Mereka juga tahu bahwa ada beberapa jenis penyakit yang ditularkan dari hubungan seksual. Misalnya 93% tahu tentang AIDS dan 34% tahu Sipilis. Kalau tentang AIDS, mereka 82% tahu dari televisi, 20% dari internet dan hanya 10% yang tahu dari orang tuanya," kata camita Wardhana, Project Director Synovate yang mempresentasikan hasil penelitian ini.

Perlu informasi lebih lengkap

  • Meskipun hasil penelitian ini bukan hal yang baru bagi masyarakat saat ini, tetap saja perlu hati-hati menyikapinya agar tidak menjadi salah persepsi.

Adrianus Tanjung, Kepala Divisi Komunikasi Informasi, Edukasi dan Advokasi Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) melihat, meskipun hasil penelitian ini memberikan gambaran rata-rata pada perilaku remaja kita saat ini, ada beberapa faktor yang bisa saja bias.

"Seperti pembagian remaja yang aktif dan pasif secara seksual dalam penelitian ini, masih bisa diperdebatkan. Misalnya, apakah jika remaja yang pernah sekali melakukan hubungan seksual tapi lalu tidak melakukannya lagi, itu tetap dalam kategori aktif secara seksual?"

Namun, ia melihat bahwa hasil penelitian ini memberikan kecenderungan yang makin menguat bahwa para remaja ini membutuhkan tempat yang nyaman untuk mencurahkan perasaan atau bertanya seputar seks.

"Mereka sulit tanya ke orangtua karena bisa aja orangtua nggak tahu .Selain itu, mungkin juga mereka membutuhkan tempat yang didesain nyaman supaya mereka mau datang ke konseling seks," tambah Tanjung.

Sebab itu, PKBI yang juga pernah mendapatkan hasil serupa dari penelitian sejenis beberapa waktu lalu ini, menurut Tanjung, akan mencoba memberikan konseling lebih detil tentang alat-alat reproduksi kepada remaja. Caranya dengan masuk ke sekolah-sekolah melalui kegiatan ekstra kulikuler seperti Pramuka.

"Ini penting agar mereka mengerti organ reproduksi mereka sendiri, mulai dari pembuahan sampai hamil dan melahirkan. Dengan begitu, mereka akan lebih dapat menjaga diri sendiri, tahu resiko-resikonya, meskipun tidak selalu dalam pantauan orangtua," demikian Andrianus Tanjung.


Saturday, April 02, 2005

Frigiditas dan Emosi Seksual Wanita

Yang Dimaksud Frigiditas

Jangan buru-buru mengklaim diri Anda sebagai ‘frigid’ hanya karena gairah seks Anda lebih rendah daripada pasangan Anda. Bahayanya banyak orang yang menjadi frigid sebelum dirinya benar-benar frigid. Hal itu disebabkan karena ia berasumsi bahwa dirinya sudah frigid. Perasaan frustrasi terhadap diri sendiri (karena tak punya gairah sebesar pasangannya) akan memicu runtuhnya kepercayaan diri.

Tak semudah itu mendefinisikan frigiditas. Beberapa pakar berpendapat, frigiditas harus didiagnosa oleh seorang ahli, melalui penerapan teori-teori yang berlaku.

Definisi yang paling praktis dari frigiditas adalah suatu keadaan dimana seseorang kehilangan sama sekali gairah seksnya dan tidak berkemauan membangkitkannya lagi. Hal ini dapat disebabkan oleh adanya perasaan kecewa yang mendalam terhadap pasangan, perlakuan kasar, picik dan tidak adil, trauma seks masa lalu, pemerkosaan, dan lain-lain. Penyebab lain yang juga berperan adalah keadaan psikologis tertentu, misalnya depresi, stress, atau adanya gangguan fungsi kelenjar gondok.

Adanya definisi yang meluas terhadap gejala terhambatnya gairah seks menyebabkan penanganan frigiditas, kini berbeda dengan dahulu. Jika dahulu yang ditangani hanya wanita saja, kini kedua belah pihak: laki-laki dan wanita.

Frigiditas dapat disembuhkan jika faktor-faktor penyebabnya telah ditemukan dan diobati. Para ahli terapi seks, menyembuhkan frigiditas dengan menyelidiki perasaan-perasaan yang secara langsung maupun tak langsung merintangi kepuasan seks seseorang. “Kadang, ada sebuah luka di awal kehidupan mereka yang membekas sebagai penderitaan, sehingga tidak pernah dapat diatasi dengan baik. Dengan demikian, kekecewaan demi kekecewaan akan semakin menumpuk saja,” kata seorang pakar. Jadi, frigiditas memang perlu disembuhkan lewat terapi yang cukup panjang.

Jika faktor penyebab telah berhasil diatasi, maka lambat laun seseorang akan mulai menikmati suatu hubungan seks, hingga mencapai kepuasan. Kepuasan seks yang dicapai, secara langsung akan meningkatkan pula kebutuhannya terhadap seks.
----------------------

Libido Dan Siklus Menstruasi
Emosi seksual kita ditentukan oleh siklus menstruasi. Bagaimana mendeteksinya?

Hari 1 sampai 5: 'Gencatan Senjata'
Pada masa ini, wanita yang sudah menikah menghindari segala bentuk hubungan seksual. Kadar estrogen mulai berkembang dan mempunyai andil dalam improvisasi gairah kita. Ingat, karena kadar estrogen masih relatif rendah, sedikit mustahil membangkitkan libido pada masa ini.

Hari 7 sampai 10: Gairah Tinggi
Produksi sel telur pada indung telur sudah memasuki putaran berikutnya dan estrogen jadi semakin gencar 'menyerang' sistem tubuh. Inilah saatnya bercinta! Meskipun kita sedang merasa bergairah luar biasa, orgasme tidaklah begitu penting bagi kita, karena pada masa ini kita lebih tertarik pada sentuhan fisik yang lembut dan penuh kasih sayang.

Hari 14: Hati-hati!
Masa pembuahan dan produksi estrogen mencapai puncaknya. Pada masa ini, hormone testoteron punya andil besar dalam mengobarkan gairah seksual kita. Kita jadi lebih agresif, karena 'kolaborasi' antara hormon estrogen dan oksitosin mempengaruhi perkembangan sensitivitas terhadap sentuhan.

Hari 17 sampai 22: Mundur!
Pada masa ini, kadar progesteron atau si hormon penolak mulai aktif. Begitu hormon ini muncul ke permukaan, perasaan kita jadi dingin, lekas marah dan tidak ramah. Zona erotis yang sensitif pada tubuh kita menjadi 'kebal' dan untuk sementara tidak ada tempat untuk orgasme.

Hari 24 sampai 28: 'Swalayan'
Kadar estrogen dan progesteron semakin menipis, dan testoteron-lah yang mengambil alih kendali gairah kita. Tubuh kita akan memberi sinyal bahwa dia siap bercinta, meskipun otak kita menolak mentah-mentah. Bisa jadi hormon yang gonjang-ganjing pada masa ini mendorong kita untuk melakukan 'swalayan'.

Note" Bener atau tidaknya uraian di atas dapat anda bandingkan dgn pengalaman anda sendiri, kalau saya sich memang begitu... banyak benernya, yach 80 persen lah... (blue angel)

Erotika (Erotica)

Erotika (Erotica)

Erotika
adalah bahan atau alat yang mampu membangkitkan minat seksual atau yang digunakan untuk meningkatkan pengalaman seksual. Istilah ini, yang pada 1980 diperkenalkan Gloria Steinem dalam artikelnya, merujuk ke bahan yang memuat interaksi cinta yang tidak hanya bersifat seksual. Umumnya erotika ada dalam bentuk tulisan eksplisit seksual atau gambar visual seperti foto, gambar dan film. Alat yang diproduksi untuk membuat variasi atau meningkatkan kenikmatan kegiatan seksual, atau "mainan seks", juga tergolong dalam erotika.

Tulisan dan bahan eksplisit seksual sudah ada sejak zaman kuno dan terdapat dalam banyak kebudayaan. Dengan adanya sistem hukum modern, bahan eksplisit seksual tertentu - tergantung tingkat eksplisitasnya dan berdasarkan interpretasi si pengamat - kini digolongkan sebagai cabul. Mahkamah Agung AS sudah menetapkan standar hukum untuk kecabulan, yang selalu diterapkan pada tingkat negara bagian dan lokal, tetapi hal ini sangat sukar untuk diterapkan terhadap kasus individu. Tidak ada perumusan khusus yang mampu membedakan erotika dan kecabulan (juga disebut dengan pornografi), sehingga seringkali keputusan berada di tangan masyarakat dan pihak perorangan.

Ada banyak alasan orang tertarik dengan erotika. Melihat dan membaca erotika memberikan tambahan pengetahuan dan menjadi bahan perbandingan terhadap anatomi dan perilaku seksual. Sebagian orang memanfaatkan bahan erotika untuk membangkitkan gairah seksual dengan cepat atau untuk mempertahankannya, tergantung selera seseorang pada saat itu. Beberapa orang menggunakan bacaan, gambar atau film erotis untuk melakukan masturbasi. Seperti fantasi seksual, erotika memicu imajinasi dan memungkinkan orang untuk mengatasi aspek terlarang atau menakutkan dari seks di dalam lingkungan terkendali imajinasi. Erotika memberikan orang kesempatan untuk melakoni dalam pikiran tindakan yang mereka harap bisa mereka lakukan pada suatu waktu atau yang menjadi sumber rasa ingin tahu mereka. Yang lainnya menggunakan erotika terutama untuk meningkatkan gairah seksual mereka, tetapi bukan untuk dijadikan aktivitas utama dalam seks, untuk merangsang pasangan mereka, atau hanya untuk sekedar memperkaya pengalaman seksual dengan pasangan mereka.

Pemilihan jenis erotika tergantung kepada selera masing-masing orang. Beberapa orang lebih menyukai aksi nyata yang ditawarkan film, sementara yang lain lebih suka mengumbar fantasi mereka pada gambar atau foto dan yang lain justru menganggap bahwa bacaan eksplisit mengandung potensi erotis yang lebih besar. Apapun bentuknya, efek yang ditimbulkan tidak banyak berbeda. Sebaliknya, kandungan erotika tersebut, bukan gaya penyajiannya, memiliki dampak khusus. Orang lebih mungkin terangsang oleh kandungan yang berhubungan dengan mereka, dan sajian aktivitas seksual yang mereka anggap sebagai tidak nyaman atau menjijikkan justru mereka tolak.

Gairah seksual yang timbul akibat penggunaan erotika bisa bersifat psikologis dan fisik. Banyak peneliti menemukan perubahan psikologis yang spesifik pada orang yang sedang menonton film erotis, membaca tulisan erotis, atau mendengarkan kaset yang berisi cerita erotis. Laki-laki seringkali mengalami ereksi sementara perempuan mengalami perubahan pada aliran darah vagina atau lubrikasi. Secara umum diasumsikan bahwa laki-laki memberikan respon yang lebih sering dan lebih kuat terhadap erotika daripada perempuan. Penelitian menunjukkan bahwa ini tidak selalu benar. Baik laki-laki maupun perempuan bisa mempunyai respon yang sama terhadap bahan erotika, meskipun jenis erotikanya (gaya, isi, plot) dapat cukup berpengaruh dalam menentukan efektifitasnya. Disamping itu, sampai sekarang, kebanyakan erotika dikembangkan oleh pria untuk pria. Ini bisa menjadi salah satu alasan kenapa perempuan tidak begitu tertarik dengan bahan erotis tradisionil laiknya laki-laki